BAB 2
BANGKU YANG TIDAK BOLEH DIHITUNG
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha meyakinkan diri bahwa tanda centang pada baris kosong itu tidak bergerak.
Tintanya hanya terlalu banyak. Kertasnya miring. Gravitasi menarik cairan ke bawah. Semua bisa dijelaskan selama aku memilih penjelasan yang paling masuk akal dan tidak memikirkan suara guru piket yang menghitung tiga puluh enam siswa.
Anehnya, semakin keras aku berusaha melupakan sesuatu, semakin kuat pula pikiranku kembali ke sana.
Malam itu, aku membuka foto daftar kelas yang sempat kuambil dengan ponsel. Ada tiga puluh lima nama, termasuk namaku. Baris terakhir memang kosong dan diberi tanda hadir.
Aku memperbesar gambar sampai tulisannya pecah. Tanda centangnya ada, tetapi nama pemiliknya tetap tidak terlihat.
Foto itu nyaris kutunjukkan kepada Ibu, tetapi kuurungkan. Hari pertamaku di sekolah baru saja selesai, dan aku tidak ingin ia mengira aku sudah mencari alasan untuk pindah lagi.
Ibu cukup senang karena aku pulang tanpa mengeluh.
“Teman-temannya bagaimana?” tanyanya sambil memotong tempe di dapur.
“Belum tahu.”
“Gurunya?”
“Belum tahu juga.”
Ibu menoleh. “Kamu di sekolah seharian, tapi tidak tahu apa-apa?”
“Aku tahu jam aulanya terlambat tujuh menit.”
Pisau di tangannya berhenti sepersekian detik.
Hanya sebentar. Mungkin aku salah melihat.
“Jam rusak?” tanyanya.
“Katanya sudah pernah diperbaiki.”
“Berarti rusak lagi.”
Jawaban itu terdengar wajar. Aku memilih menerimanya.
Keesokan paginya, aku datang tidak terlalu awal. Aku sengaja menunggu beberapa siswa lain masuk agar tidak terlihat seperti anak baru yang terlalu bersemangat.
Guru piket yang kemarin menghitung siswa berdiri di gerbang. Buku kecilnya tidak terlihat.
Aku mengucapkan salam.
Ia membalas sambil memandang wajahku sedikit lebih lama daripada seharusnya.
“Adinda, kan?”
“Iya, Pak.”
Aku nyaris lega hanya karena ia masih mengingat namaku.
Di kelas, kursi di sebelahku sudah ditempati siswi berambut sebahu yang kemarin menggeser tasnya. Ia sedang menggambar bunga-bunga kecil di sampul buku dengan pulpen hijau.
Begitu melihatku, ia tersenyum.
“Kamu akhirnya datang.”
“Aku tidak terlambat.”
“Bukan itu maksudku. Kemarin kita belum sempat kenalan.” Ia menutup bukunya dan mengulurkan tangan. “Siska Anggraini.”
“Adinda.”
“Aku tahu. Namamu dibacakan wali kelas tiga kali karena beliau terus menyebut Larasati jadi Lestari.”
Kutarik kursi. “Kupikir tidak ada yang memperhatikan.”
“Aku memperhatikan. Kemarin kamu kelihatan bingung, tapi enggak mau minta tolong.”
“Kelihatan separah itu?”
“Enggak. Makanya aku geser tas. Hari pertama di tempat baru sudah cukup bikin canggung tanpa harus duduk sendirian.”
Aku menatapnya, sedikit terkejut karena ia menyampaikan kebaikan itu seolah bukan perkara besar. “Jadi namaku penting?”
“Setidaknya aku enggak akan memanggilmu Lestari.”
Dari kursi depan, seorang anak laki-laki menoleh.
“Kalau terkenal karena kabur dari sekolah hari kedua, tetap terkenal.”
Aku mengenalinya sebagai anak yang kemarin menyenggolku di gerbang.
Siska menunjuknya dengan ujung pulpen. “Itu Azka. Jangan terlalu didengarkan. Dia anggota majalah sekolah, jadi merasa semua kalimatnya pantas dicetak.”
Anak itu memutar badan sepenuhnya. Rambutnya agak panjang di bagian depan, dasinya longgar, dan ekspresinya terlalu santai untuk jam pelajaran pertama.
“Azka Mahendra,” katanya. “Aku tidak merasa semua kalimatku pantas dicetak. Hanya sekitar delapan puluh persen.”
“Dua persen,” kata Siska.
“Kalau ada penyunting yang kejam.”
Kutahan senyum.
Azka menatapku seolah baru menemukan dukungan.
“Nah, murid baru saja mengakui aku lucu.”
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Kamu hampir tersenyum.”
“Hampir bukan berarti jadi.”
Siska menepuk meja pelan. “Selamat. Kamu sudah bisa menghadapi Azka. Biasanya butuh waktu seminggu.”
Bel masuk berbunyi sebelum Azka sempat membela diri.
Pelajaran pertama adalah fisika. Pak Arif, guru kami, membawa lembar presensi dan memanggil nama satu per satu. Ketika namaku disebut, beberapa siswa masih menoleh, tetapi tidak sebanyak kemarin.
Semua berjalan normal sampai Pak Arif menghentikan panggilan pada nama terakhir.
“Ketua kelas, jumlahnya berapa?”
Seorang siswi di baris depan berdiri dan menghitung cepat.
“Tiga puluh lima, Pak.”
Pak Arif memandang seluruh ruangan.