BAB 3
TUJUH MENIT SETELAH AZAN
Aku tidak langsung memberi tahu Siska dan Azka bahwa bangku itu berpindah.
Setidaknya, tidak langsung.
Beberapa detik aku berdiri di ambang pintu, memandangi ruang antara bangku dan lemari. Aku sibuk mencari alasan sederhana. Mungkin salah seorang siswa memindahkannya saat aku menyalin jadwal, atau petugas kebersihan masuk lewat pintu lain.
Masalah pertama: kelas hanya punya satu pintu.
Masalah kedua: aku berada di dalam kelas sejak siswa terakhir keluar.
“Adinda?” panggil Siska dari koridor.
Kututup pintu kembali. “Tidak apa-apa.”
Azka mencondongkan kepala. “Kalau bilang ‘tidak apa-apa’, biasanya ada apa-apa.”
“Bangkunya bergeser.”
Siska langsung berhenti.
“Bergeser ke mana?”
“Tadi dekat lemari. Sekarang lebih dekat ke meja guru.”
Azka meraih gagang pintu, tetapi Siska menahan tangannya.
“Tidak usah masuk lagi.”
“Kenapa?”
“Sudah jam pulang.”
Azka melihat jam tangannya. “Masih jam dua lewat.”
“Ya, dan kita sudah mau pulang.”
Nada Siska terdengar terlalu tegas untuk masalah bangku bergeser. Aku hendak bertanya, tetapi suara Pak Wiryo terdengar dari ujung koridor.
“Gedung dikosongkan!”
Kami bertiga langsung berjalan ke tangga.
Saat sampai di halaman, aku menoleh ke jendela kelas. Dari luar, bangku itu tidak terlihat karena tertutup pantulan langit.
Siska memegang tali tasnya erat-erat.
“Besok kita lihat lagi,” katanya.
Aku tidak yakin itu janji atau cuma permintaan agar aku berhenti membicarakannya.
Keesokan harinya, bangku tua itu kembali berada di dekat lemari.
Lantai tidak menyisakan bekas geseran, dan tak satu pun siswa mengaku memindahkannya. Bahkan Siska mulai ragu ketika kutunjukkan posisi yang kulihat kemarin.
“Bisa saja kamu salah,” katanya.
“Aku tahu tempatnya.”
“Kamu baru dua hari di kelas ini.”
“Aku tetap tahu letaknya.”
Azka memeriksa kaki bangku. “Kalau bangku ini memang bisa jalan sendiri, berarti dia lebih rajin dari anak-anak kelas.”
Siska mendecakkan lidah. “Kamu tidak pernah bisa serius?”
“Serius. Aku juga malas gerak kalau nggak disuruh.”
Gurauan itu tidak membuatku tertawa.
Azka mengangkat kedua tangan. “Baik. Kita anggap bangku ini benar-benar bergerak. Pertanyaannya, mau ke mana?”
Aku melirik meja guru.
“Ke depan.”
“Berarti mau ke depan.”
Siska menarik lengan Azka menjauh. “Sudah. Nanti ada yang lihat kita muter-muterin bangku ini.”
Kami kembali ke tempat duduk.
Hari itu seharusnya biasa saja. Pada jam terakhir, Bu Nani dari tata usaha masuk membawa setumpuk map.
“Siapa yang kemarin meminjam arsip kegiatan lama dari ruang penyimpanan?”
Tidak ada yang menjawab.
Bu Nani melihat daftar di tangannya. “Azka Mahendra.”
Azka yang sedang menggambar sesuatu di buku langsung duduk tegak. “Saya hanya meminjam majalah lama, Bu.”
“Dan mengembalikannya ke rak yang salah.”
“Rak-raknya tidak diberi nama.”
“Karena labelnya jatuh setelah kamu menyenggol lemari.”
Beberapa siswa tertawa.
Azka menoleh ke belakang, mencari pendukung. “Lemarinya memang sudah begitu.”
“Itu membuktikan umurnya sudah tidak stabil.”
Bu Nani tidak terhibur.
“Kamu tinggal sepulang sekolah dan merapikan arsip.”
Azka menghela napas panjang, lalu menunjuk Siska. “Dia ikut.”
Siska membelalak. “Kenapa aku?”
“Kamu anggota redaksi. Majalah lama yang dipinjam juga urusan redaksi.”
“Aku bagian desain. Aku bahkan enggak masuk waktu dia mengambilnya.”
“Tapi kamu punya daftar edisinya. Kamu bantu memastikan semuanya kembali ke tahun yang benar.”
Siska hendak membantah lagi, tetapi Bu Nani lebih dulu menoleh kepadaku.
“Adinda, kamu tidak dihukum. Saya butuh satu orang yang memegang daftar dan belum pernah membongkar rak itu. Kamu boleh menolak.”
Aku melirik Siska, lalu Azka. Meninggalkan mereka membereskan akibat ulah Azka memang masuk akal. Entah mengapa, pulang sendirian terasa kurang masuk akal.