Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #5

BAB 4 NAMA YANG MENJAWAB DARI DUA TEMPAT

BAB 4

NAMA YANG MENJAWAB DARI DUA TEMPAT

“Jumlah siswa yang hadir: enam.”

Suara dari pengeras itu tetap tenang, seolah angka enam bukan sesuatu yang aneh.

Kami berlima berdiri di lorong gedung lama. Aku menghitung lagi. Bukan karena berharap hasilnya berubah, hanya saja angka enam itu terasa salah.

Aku, Siska, Azka, Bima, dan Rani.

Lima.

Pengeras suara di atas pintu ruang arsip mendesis. Lampu lorong meredup, lalu kembali terang dengan warna kekuningan. Di luar jendela, langit seharusnya semakin gelap setelah azan, tetapi cahaya jingga masih tertahan di antara batang-batang pohon.

Seolah sore tidak diizinkan selesai.

“Kita pergi saja,” kata Bima.

Ia berjalan cepat menuju selasar penghubung. Kami mengikutinya, tetapi setelah beberapa langkah, ujung lorong tidak mendekat. Pintu keluar yang tadi hanya berjarak belasan meter masih terlihat jauh.

Bima mempercepat langkah, tetapi pintu itu masih di tempat yang sama.

“Jangan lari,” bisik Siska.

“Kalau jalannya begini terus, kita harus gimana?”

Bima mulai berlari. Beberapa detik kemudian ia muncul dari ujung lorong di belakang kami dan hampir menabrak Rani.

Rani menjerit.

Bima langsung pucat. “Aku tidak berbalik.”

Kami saling pandang. Pintu keluar ada di depan. Bima sekarang berada di belakang kami.

Azka meraih lenganku. Biasanya dia akan bercanda kalau suasana mulai seperti ini. Kali ini tidak ada gurauan di wajahnya.

Pengeras suara berbunyi lagi.

“Absen dimulai.”

Aku teringat tulisan di bawah bangku itu.

Kalau namamu disebut dua kali, jangan percaya suara kedua.

“Jangan jawab,” kataku cepat.

“Apa?” tanya Rani.

“Kalau nama kalian dipanggil, diam saja.”

Bima menatapku seolah aku baru saja mengusulkan hal paling bodoh. “Ini cuma pengeras suara rusak.”

“Pengeras rusak nggak akan tahu kita berlima.”

“Bisa jadi rekaman lama.”

“Rekaman lama tahu kita ada lima orang di sini?”

Ia tidak membalas.

Dari kelas di seberang lorong terdengar bunyi pintu terbuka. Pelan. Kayunya bergesek panjang, lalu berhenti.

Ruangan itu bertuliskan 3-B. Tadi, ketika kami melewatinya, pintunya terkunci. Sekarang pintunya terbuka selebar telapak tangan. Cahaya magrib menembus celahnya, meski jendela ruang itu menghadap arah yang salah.

Krrrkkk...

Suara perempuan dari pengeras memanggil nama pertama.

“Bima Prasetya.”

Bima menegakkan tubuh.

“Jangan,” kataku.

“Hadir,” jawabnya.

Jawaban itu keluar begitu saja, seperti saat guru memanggil nama di kelas.

Setelahnya hanya ada desis listrik.

Lihat selengkapnya