Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #6

BAB 5 ANAK YANG TIDAK PERNAH TERDAFTAR

BAB 5

ANAK YANG TIDAK PERNAH TERDAFTAR

Siska tidak datang ke sekolah keesokan paginya.

Sampai bel pertama hampir berbunyi, aku masih menunggunya di gerbang. Setiap siswi berambut sebahu yang muncul dari jalan membuat tubuhku menegang, tetapi tak satu pun membawa tas krem dengan gantungan bunga kecil milik Siska.

Azka datang tergesa-gesa sambil menggigit roti.

“Dia belum datang?” tanyaku.

Azka berhenti mengunyah. “Siapa?”

“Siska.”

Ia menatapku beberapa detik.

“Siska siapa?”

Kupikir ia sedang bercanda. Biasanya ada tanda kecil di wajah Azka sebelum ia melontarkan gurauan—sudut mulut yang bergerak atau mata yang menunggu reaksi. Pagi itu tidak ada apa-apa.

“Siska Anggraini,” kataku. “Teman sekelas kita.”

Azka mengernyit. “Kita punya teman yang namanya Siska?”

Roti di tangannya hampir jatuh saat aku menarik lengannya.

“Jangan main-main. Kemarin dia ada bersama kita di gedung lama.”

“Gedung lama?”

“Kita dihukum merapikan arsip. Kamu, aku, Siska, Bima, dan Rani.”

Azka menarik tangannya perlahan. “Kemarin kita memang merapikan arsip, tapi cuma berempat.”

“Lima.”

“Empat. Aku, kamu, Bima, Rani.”

Aku menatapnya beberapa detik. Wajahnya tetap bingung.

“Bangku itu menjawab dengan suaranya.”

Wajah Azka semakin bingung. “Bangku apa?”

Bel berbunyi. Siswa di sekitar kami mulai berlari masuk. Azka memandangku dengan campuran khawatir dan tidak nyaman.

“Kamu sakit?”

Aku meninggalkannya di gerbang.

Di kelas, tempat duduk di sebelahku tidak kosong.

Tempat duduk itu tidak ada.

Mejaku berdiri sendiri di ujung baris. Jarak antara mejaku dan dinding terlalu sempit untuk menaruh satu bangku lagi. Lantai di sana bersih, tanpa bekas kaki meja atau garis debu.

Aku terpaku di sana sampai ketua kelas meminta jalan.

“Kenapa mejanya berubah?” tanyaku.

“Berubah bagaimana?”

“Kemarin ada meja di sebelahku.”

Ia melihat ruang sempit itu. “Dari awal memang begitu. Kamu duduk paling pinggir.”

“Tidak. Siska duduk di sana.”

“Siska siapa?”

Pertanyaan yang sama.

Nada bingung yang sama.

Aku berbalik mencari Bima dan Rani. Keduanya sedang membicarakan tugas fisika. Begitu aku menyebut nama Siska, Bima tertawa pendek karena mengira aku salah kelas. Rani hanya menggeleng.

“Kemarin kamu berdiri di sampingnya,” kataku kepada Rani. “Kamu dengar namanya dipanggil.”

“Aku berdiri di sampingmu.”

“Bukan.”

“Dinda, aku ingat. Aku ketakutan setengah mati. Tidak mungkin aku lupa ada orang lain.”

Di situlah aku mulai percaya kalau ia benar-benar lupa.

Pak Arif masuk membawa lembar presensi. Aku kembali ke tempat duduk, tetapi tidak membuka buku.

Nama-nama dipanggil satu per satu. Ketika Pak Arif langsung melewati namaku dan melanjutkan ke nama berikutnya, aku mengangkat tangan.

“Pak, Siska belum dipanggil.”

Pak Arif melihat daftarnya. “Siska?”

“Siska Anggraini.”

Ia menyisir lembar presensi dari atas ke bawah. “Tidak ada nama itu.”

“Kemarin ada.”

“Adinda, daftar kelas ini tidak berubah sejak awal semester, kecuali namamu yang baru masuk.”

“Tolong periksa lagi.”

Beberapa siswa mulai menoleh.

Lihat selengkapnya