Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #7

BAB 6 FOTO DENGAN RUANG KOSONG

BAB 6

FOTO DENGAN RUANG KOSONG

Pulpen hijau itu berhenti bergerak setelah menulis tiga kata.

AKU MASIH HADIR.

Aku tetap berdiri di dekat jendela, memandangi tulisan itu sampai tinta terakhir mengering. Tidak ada angin yang cukup kuat untuk mendorong pulpen. Permukaan meja juga datar. Bahkan jika meja itu miring, pulpen seharusnya menggelinding, bukan membentuk huruf demi huruf dengan tulisan tangan yang kukenal.

Tulisan Siska.

Perlahan, aku duduk kembali.

“Siska?”

Pulpen itu diam.

Kusentuh badannya dengan ujung jari. Dingin, sama seperti benda biasa. Tidak bergetar atau bergerak saat aku memanggil namanya lagi.

“Kalau kamu bisa mendengar, tulis sesuatu.”

Pulpen itu tetap diam.

Aku menulis beberapa pertanyaan di bawah pesannya.

Kamu di mana?

Apa yang terjadi setelah kita pulang?

Bagaimana aku bisa membawamu kembali?

Pulpen hijau tetap tidak bergerak. Aku mulai bertanya-tanya apakah aku benar-benar melihatnya menulis atau hanya terlalu takut menerima kenyataan bahwa seluruh dunia telah melupakan seseorang yang baru kukenal.

Seseorang mengetuk pintu kamar.

Aku buru-buru menutup buku.

“Dinda?” suara Ibu terdengar dari luar. “Belum tidur?”

“Belum.”

Ibu membuka pintu sebelum aku sempat menjawab lagi. Ia membawa segelas susu hangat, kebiasaan yang sudah ditinggalkannya sejak aku masuk SMP.

“Kamu sakit?” tanyanya.

“Enggak.”

“Dari tadi diam saja.”

“Aku lagi mengerjakan tugas.”

Ibu melirik buku yang baru kututup, lalu pulpen hijau di atasnya.

“Temanmu yang punya pulpen itu sudah ketemu?”

Aku langsung menatap Ibu. “Ibu ingat?”

“Ingat apa?”

“Tadi aku cerita soal Siska.”

“Kamu cerita sedang mencari pemilik pulpen.”

Aku memang sempat menyebut nama Siska saat pulang, tetapi Ibu hanya mengangguk sambil menata belanjaan. Rupanya nama itu cepat hilang dari kepalanya.

“Namanya Siska Anggraini,” kataku. “Dia teman sekelasku.”

Ibu memicingkan mata, mencoba mengingat.

“Kamu baru beberapa hari sekolah.”

“Dia teman pertamaku.”

“Lalu kenapa kamu membawa pulpennya?”

“Dia memberikannya kepadaku.”

“Kapan?”

“Semalam, setelah kami keluar dari gedung lama.”

Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya yang memegang gelas tampak menegang.

“Kamu masuk gedung lama setelah magrib?”

“Aku dihukum merapikan arsip. Bukan sengaja.”

“Sekolah macam apa menghukum murid baru sampai malam?”

“Tidak sampai malam. Kami sudah mau keluar ketika azan.”

Ibu meletakkan gelas di meja lebih keras daripada biasanya. Sedikit susu tumpah ke tatakannya.

“Kamu jangan ke sana lagi.”

Aku menatap Ibu. “Ibu tahu sesuatu tentang gedung itu?”

“Enggak.”

“Kenapa langsung melarang?”

“Karena bangunan lama berbahaya. Kayunya rapuh, listriknya juga pasti sudah tidak bagus.”

Jawaban itu terdengar dibuat-buat. Sebelum aku bisa mendesak, Ibu mengambil pakaian kotor dari kursi dan berjalan menuju pintu.

Lihat selengkapnya