Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #8

BAB 7 CATATAN YANG MENOLAK LUPA

BAB 7

CATATAN YANG MENOLAK LUPA

Aku membawa foto keluarga itu ke sekolah keesokan harinya.

Sepanjang perjalanan, foto itu kusimpan di antara dua lembar karton agar tidak terlipat. Pulpen hijau Siska berada di saku seragamku. Setiap beberapa menit, aku menyentuhnya untuk memastikan benda itu masih ada.

Nama di belakang foto itu terus berputar di kepalaku: Aulia Larasati. Nama belakang kami sama-sama Larasati. Mungkin ia sepupu jauh, tetangga lama, atau seseorang yang sengaja memakai nama keluarga kami. Larasati bukan nama yang hanya dimiliki satu keluarga.

Tetapi ruang kosong itu berada tepat di antara aku dan Ibu. Tangan kami seolah memegang seseorang.

Aku sudah bertanya lagi kepada Ibu sebelum berangkat. Ia tetap mengaku tidak mengenal siapa pun bernama Aulia. Saat melihat tulisan di belakang foto, wajahnya memucat, tetapi ia mengatakan tinta lama sering terlihat seperti tulisan padahal hanya noda.

Tulisan yang tersusun rapi itu jelas bukan noda.

Azka sedang berdiri di depan kelas ketika aku datang. Ia menatap karton yang kubawa.

“Kamu pindahan atau sales bingkai foto?”

“Aku perlu bicara.”

“Kalimat itu jarang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.”

Aku menariknya ke ujung koridor sebelum siswa lain mulai masuk. Foto keluarga kutunjukkan kepadanya tanpa menjelaskan apa pun.

“Apa yang kamu lihat?”

Azka memeriksa bagian depan.

“Keluargamu.”

“Berapa orang?”

“Tiga.”

“Yakin?”

“Ayahmu, ibumu, dan kamu.” Ia menunjuk satu per satu. “Aku lumayan bisa menghitung selama tidak berada di gedung lama.”

Aku mengarahkan jariku ke ruang antara aku dan Ibu.

“Menurutmu posisi kami wajar?”

Azka memandang lebih lama. Gurauan di wajahnya memudar.

“Tangan ibumu...”

“Seperti sedang memeluk seseorang.”

“Bisa jadi ada benda di situ.”

“Benda berbentuk anak?”

Ia membalik foto dan membaca tulisan di belakang.

“Aulia Larasati.”

Begitu ia mengucapkan nama itu, ruang di sekitar kami terasa lebih sunyi. Tidak ada lampu yang padam atau suara aneh, tetapi aku merasakan pulpen hijau di saku menjadi dingin.

“Kamu mengenalnya?” tanyaku.

Azka menggeleng.

“Ada hubungan keluarga?”

“Itu yang mau kucari.”

“Orang tuamu tidak tahu?”

“Tidak mengaku tahu.”

Azka mengembalikan foto. “Mungkin tulisan ini dibuat orang lain.”

“Kenapa orang lain menulis peringatan di belakang foto keluargaku?”

“Dinda, aku bukan bilang ini semua kebetulan.” Ia menurunkan suara. “Foto kelas kemarin memang aneh. Aku cuma belum tahu harus percaya bagian yang mana.”

“Percaya bahwa Siska ada.”

Azka mengusap wajahnya. “Aku tidak mengingatnya.”

“Tapi kamu melihat ruang kosong tempat dia seharusnya berdiri.”

“Aku melihat jarak di antara dua orang. Itu belum cukup untuk membuktikan ada murid yang dihapus dari dunia.”

Aku merogoh saku dan mengeluarkan pulpen hijau.

“Pulpen ini menulis sendiri.”

“Yang itu lebih sulit dibuktikan. Siapa saja bisa menulis begitu.”

“Aku melihatnya bergerak.”

“Aku tidak.”

Aku memandang Azka dengan kesal. “Jadi menurutmu aku mengarang semuanya?”

“Menurutku kamu mengalami sesuatu yang tidak bisa kuingat. Itu beda.”

Bel hampir berbunyi. Anak-anak mulai memasuki kelas dan melirik kami yang masih berdiri di koridor.

Azka memandang foto di tanganku sekali lagi.

“Aku akan bantu cari bukti,” katanya akhirnya. “Tapi bukti yang bisa kubaca sendiri. Bukan hanya karena kamu memaksaku mengingat orang yang kepalaku sendiri bilang tidak pernah ada.”

“Baik.”

“Setelah pelajaran selesai, kita ke ruang majalah.”

Lihat selengkapnya