BAB 9
KAKAK YANG TIDAK DIAKUI RUMAH
Huruf A dalam Buku Hadir Senja membuatku tidak tidur nyenyak.
Bu Ratih tidak mengizinkan kami membuka buku itu lagi. Ia membungkusnya, mengunci lemari, lalu menyuruh kami pulang sebelum cahaya di luar berubah jingga.
“Huruf itu bisa berarti siapa saja,” katanya.
Ia berusaha mencegahku menarik kesimpulan, tetapi hanya satu nama berawalan A yang terus berputar di kepalaku.
Aulia Larasati.
Pagi berikutnya aku tidak langsung berangkat sekolah. Aku berdiri di depan kusen pintu kamar sambil memperhatikan bekas goresan yang selama ini kukira hanya cat terkelupas.
Ada dua deret garis tinggi badan.
Deret pertama diberi tanggal sejak aku berusia enam sampai tiga belas tahun. Beberapa tulisan masih terbaca: Dinda, kelas satu. Dinda, sembilan tahun. Dinda hampir setinggi Ibu.
Di sebelahnya ada deret lain yang sudah ditutup cat putih. Garis-garisnya lebih tinggi. Ketika kusentuh, permukaannya terasa tidak rata, seolah seseorang berusaha menghapus tulisan tanpa mengampelas kayu.
Kuambil pensil dan menggosokkan sisi grafitnya pada selembar kertas yang ditempel di kusen.
Huruf-huruf samar muncul.
AULIA — 14 TAHUN.
Tanganku langsung dingin.
“Ibu!”
Suara langkah datang dari dapur. Ibu muncul sambil membawa kain lap.
“Ada apa pagi-pagi?”
Kutunjukkan hasil gosokan pensil. “Ini siapa?”
Ia membacanya, lalu menatap kusen.
“Entahlah. Mungkin tulisan penghuni rumah sebelum kita.”
“Kita sudah tinggal di rumah ini sejak aku kecil.”
Ibu mengerutkan dahi. “Mungkin tukangnya menulis nama anaknya.”
“Kenapa tinggi badan anak tukang diukur tiap tahun di pintu kamarku?”
Ibu tetap diam. Tatapannya tertahan pada kusen, dan kebingungan di wajahnya tampak nyata—bukan kebohongan.
Kubuka lemari pakaian. Bagian atasnya dipenuhi selimut dan kardus lama. Setelah menarik satu kardus ke lantai, aku menemukan tas kain di belakangnya.
Di dalam tas ada dua seragam SMA Puspa Bangsa model lama.
Salah satunya seukuranku. Seragam kedua lebih besar, dengan lengan yang pernah dilipat dan dijahit rapi. Keduanya sudah menguning di bagian kerah.
“Ibu bilang aku murid pertama di keluarga kita yang sekolah di Puspa Bangsa.”
“Memang.”
“Lalu seragam ini punya siapa?”
Ibu mengambil seragam yang lebih besar. Ia membolak-baliknya, seolah berharap ada nama pemilik.