BAB 10
SEKOLAH YANG MENGUBAH JALAN PULANG
Pagi setelah kamarku menyempit, aku datang ke sekolah sambil membawa tiga benda di dalam tas: kartu ulang tahun untuk Aulia, foto keluarga dengan ruang kosong, dan pulpen hijau milik Siska.
Aku memeriksanya berkali-kali sepanjang perjalanan. Bukan takut hilang. Aku takut salah satunya berubah saat tidak kulihat.
Azka sudah menunggu di depan kelas. Begitu melihatku, ia turun dari kusen jendela tempatnya duduk.
“Kamu kemarin menghilang tanpa kabar yang jelas.”
“Aku kirim foto amplop.”
“Itu bukan kabar. Itu bahan pembuka film dokumenter tentang keluarga yang menyangkal punya anak.”
Kukeluarkan kartu ulang tahun dan menyerahkannya. Azka membacanya sampai selesai, lalu menatapku.
“Jadi Aulia benar kakakmu.”
“Aku yakin.”
“Kamu ingat wajahnya?”
Aku menggeleng.
“Suara?”
“Sedikit. Seperti dari balik pintu.”
Azka mengembalikan kartu itu dengan hati-hati. “Bu Ratih bilang jangan memaksa ingatan terlalu keras.”
“Bu Ratih juga menyimpan buku dengan sebelas baris kosong dan baru menunjukkannya setelah Siska hilang.”
“Itu kritik yang adil.”
Aku duduk. Meja di sebelahku tetap tidak ada. Ruang kelas sudah menyesuaikan diri sampai keberadaan Siska terasa seperti kesalahan dalam ingatanku sendiri.
Aku mengeluarkan buku catatan dan membaca daftar yang kutulis tentangnya.
Siska Anggraini. Enam belas tahun. Rambut sebahu. Tas krem. Suka menggambar bunga. Sering memutar pulpen saat berpikir. Duduk di sebelahku.
Pada kalimat terakhir, pulpen hijau bergerak di antara jariku.
Ujungnya menekan kertas, tetapi tidak membentuk kata. Hanya satu garis pendek mengarah ke jendela.
Aku mengikuti arah garis itu.
Kaca jendela dipenuhi embun tipis di bagian dalam, meski udara pagi cukup hangat. Sebuah garis muncul perlahan di permukaannya, seperti ditulis oleh jari yang tidak terlihat.
KELUAR SAAT PULANG.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
Azka ikut melihat kaca. “Itu baru muncul?”
Aku mengangguk.
Tulisan berikutnya terbentuk di bawahnya.
BAWA AKU.
Tanganku otomatis menggenggam pulpen hijau.
“Aku ikut,” kata Azka.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena tulisan itu ditujukan kepadaku.”
“Justru itu alasan kamu jangan pergi sendirian.”
“Aku cuma akan melihat ke mana Siska membawaku.”
Azka menatap kaca yang mulai bening kembali. “Kalau dia benar Siska.”
Kemungkinan itu tidak kusukai, tetapi sulit kutolak.
“Kamu tunggu di gerbang,” kataku. “Kalau aku tidak kembali sebelum sore, cari Pak Wiryo.”