Absen Maghrib

A.A.Pusung
Chapter #12

BAB 11 KELAS YANG SELALU MAGRIB

BAB 11

KELAS YANG SELALU MAGRIB

Ponselku tidak mengenali wajahku sampai Azka menemukanku di depan warung yang sudah tutup.

Ia datang dengan sepeda motor pinjaman milik kakaknya, berhenti terlalu mendadak, lalu hampir menjatuhkan kendaraan itu karena kakinya menginjak lubang.

“Aku ingin masuk dengan gaya,” katanya sambil mematikan mesin. “Jalannya tidak mendukung.”

Aku tidak ikut tertawa. Sebagai jawaban, kutunjukkan layar ponsel yang masih bertuliskan WAJAH TIDAK DIKENALI.

Azka menatapnya lama.

“Kamu masih ingat kata sandinya?”

Aku memasukkan enam angka. Ponsel terbuka.

“Berarti belum semuanya hilang.”

Kata belum membuat dadaku terasa lebih sesak dari seharusnya.

Azka mengantarku pulang dengan mengikuti petunjuk Ibu melalui telepon. Jalan yang tadi terasa asing perlahan kembali kukenal setelah aku berhenti memikirkan rumah Siska.

Seolah dunia sedang memberiku pilihan: mempertahankan jalan menuju seseorang yang dihapus, atau mempertahankan jalan pulangku sendiri.

Aku tidak suka pilihan itu.

Keesokan harinya, kami menemui Bu Ratih sebelum pelajaran dimulai. Ia mendengarkan ceritaku tanpa memotong, tetapi jemarinya terus merapikan ujung taplak meja yang sebenarnya sudah lurus.

“Ingatanmu tentang Siska membuka jalan yang sudah dihapus,” katanya.

“Lalu kenapa aku malah lupa jalan pulang?”

Bu Ratih membuka laci dan mengeluarkan kartu katalog lama.

“Karena mengingat bukan pekerjaan tanpa harga.”

Azka bersandar di meja. “Harga dalam bentuk apa?”

“Hal-hal yang membuat Adinda yakin bahwa ia adalah Adinda.”

Aku teringat makanan kesukaan yang tidak bisa kusebutkan, nama guru SD, dan ponsel yang gagal mengenali wajahku.

“Bisa dikembalikan?”

Bu Ratih tidak langsung menjawab.

“Selama ini, dokumen yang menolak berubah hanya dokumen yang ditulis sebelum penghapusan. Kamu bukan dokumen. Kalau kamu terus memaksa mengingat korban sendirian, dunia akan mencari keseimbangan.”

“Maksudnya aku akan menggantikan Siska?”

“Belum tentu.” Bu Ratih menatapku. “Kamu mulai kehilangan tempatmu sendiri.”

Azka berdiri lebih tegak. “Kalau begitu kita harus mencari Siska sebelum Dinda kehilangan lebih banyak.”

“Kalian tidak boleh masuk gedung lama.”

“Kami sudah pernah masuk,” kataku. “Bedanya, waktu itu kami tidak tahu apa yang kami hadapi.”

“Sekarang pun kalian belum tahu.”

“Aku tahu Siska ada di balik sesuatu. Aku melihat bayangannya di rumah yang sudah dihapus.”

Bu Ratih terdiam.

Aku mengeluarkan pulpen hijau. Sejak semalam benda itu tidak menulis apa pun, tetapi setiap kali diletakkan di permukaan datar, ujungnya selalu mengarah ke gedung lama.

“Aku harus melihat tempat dia berada.”

“Melihat tidak sama dengan membawa pulang.”

“Setidaknya aku bisa memastikan dia masih hidup.”

Bu Ratih melepas kacamatanya. Wajahnya tampak lebih lelah tanpa bingkai tebal itu.

“Celah tujuh menit bukan bagian sekolah yang bisa kalian datangi seperti ruang kelas biasa,” katanya. “Ruang di dalamnya mengikuti ingatan. Kalau kalian tersesat, lorong bisa menyusun dirinya berdasarkan hal yang paling kalian takut kehilangan.”

Lihat selengkapnya