BAB 8
BUKU HADIR SENJA
Kalimat baru di buku Azka tidak berubah meski kami menatapnya hampir satu menit.
Kalian tinggal empat orang, tetapi yang pulang lima.
Azka membaca kalimat itu sekali lagi tanpa suara. Tangannya masih menekan pelipis, seolah ingatan tentang Siska meninggalkan luka setiap kali dipanggil kembali.
“Empat orang yang diingat,” kataku. “Lima orang yang benar-benar pulang.”
“Berarti Siska masih keluar bersama kita malam itu.”
“Dia bahkan berjalan sampai pertigaan.”
Azka menutup buku wawancara. “Lalu keesokan paginya, dunia merapikan ceritanya.”
Ucapan itu membuat ruang majalah terasa lebih sempit. Tidak ada yang bergerak, hanya saja kalimatnya terdengar masuk akal.
Kami membuat dua salinan catatan Siska. Satu kusimpan di buku tulis, satu lagi dimasukkan Azka ke map majalah. Ia juga menuliskan nama Siska pada tiga halaman berbeda, lalu berhenti ketika sakit kepalanya kembali.
“Kalau begini terus, aku bisa lulus dengan nilai buruk, tapi dokumentasi orang hilang sangat lengkap,” gumamnya.
“Kamu masih sempat memikirkan nilai?”
“Aku memikirkan alasan yang bisa diterima ibuku.”
Aku baru hendak menjawab ketika ketukan terdengar di pintu.
Bu Ratih, pustakawan sekolah, berdiri di luar. Ia perempuan berkacamata dengan rambut yang selalu disanggul rapi. Selama beberapa hari bersekolah di sana, aku belum pernah melihatnya berbicara lebih dari seperlunya.
“Ruang majalah seharusnya sudah dikunci,” katanya.
Azka buru-buru berdiri. “Kami sedang menyelesaikan catatan, Bu.”
Tatapan Bu Ratih jatuh pada buku wawancara yang terbuka. Lalu pada pulpen hijau di tanganku.
Raut Bu Ratih mendadak tegang.
“Pulpen siapa itu?”
Aku menggenggamnya lebih erat. “Siska Anggraini.”
Azka menoleh kepada Bu Ratih, mungkin menunggu ekspresi bingung yang sama seperti orang-orang lain.
Bu Ratih tidak bertanya siapa Siska.
Bu Ratih masuk, menutup pintu, lalu memutar kuncinya dari dalam.
“Tunjukkan catatannya.”
Azka menyerahkan buku wawancara. Bu Ratih membaca nama Siska tanpa mengucapkannya. Matanya berhenti pada kalimat baru di bawah gambar bunga.
“Siapa yang menulis ini?”
“Muncul sendiri,” jawabku.
Bu Ratih mengusap tepi halaman, berhati-hati agar tidak menyentuh tinta. “Tulisan yang dibuat sebelum seseorang dihapus kadang lebih keras kepala daripada ingatan.”
Aku langsung berdiri. “Ibu tahu soal penghapusan?”
“Saya tahu dokumen di sekolah ini tidak selalu mencatat kebenaran.”