Mobil kami berhenti tepat di depan rumah itu, dan seperti biasa, refleks pertamaku bukan melihat bangunan melainkan anak-anak di belakang.
“Udah sampai,” kataku lembut sambil menoleh.
“Capek ya di jalan?”
Alya mengangguk kecil. Seperti biasa, dia tidak banyak bicara, tapi matanya memperhatikan segalanya—rumah, halaman, bahkan langit yang mulai redup. Sementara itu, Bima sudah setengah berdiri di kursinya.
“Ini rumah kita? Yang beneran? Yang gede banget itu?” tanyanya, matanya berbinar penuh imajinasi.
Aku tersenyum tipis. “Iya, yang itu.”
Baru setelah itu aku kembali menatap rumah di depan kami.
Rumah bercat abu-abu gelap itu tampak sunyi. Warnanya seperti menyerap cahaya sore, membuat suasana di sekitarnya terasa lebih berat. Halamannya luas, tapi rumputnya tumbuh liar. Tidak menyeramkan tapi juga tidak nyaman, dan anehnya terasa akrab.
“Ya… akhirnya sampai juga,” kata Raka sambil mematikan mesin.
Nada suaranya tenang, mantap, seperti biasa. Selalu begitu. Di saat aku mulai merasakan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, dia tetap berpijak pada logika.
“Kamu kenapa?” tanyanya saat melihatku diam.
Aku ragu sejenak. “Aku… ngerasa aneh.”
“Aneh gimana?”
Aku menarik napas pelan. “Kayak… aku pernah lihat rumah ini sebelumnya.”
Raka menghela napas kecil, bukan kesal, lebih ke arah menenangkan. “Kita lihat fotonya berkali-kali waktu mau beli, Din. Wajar kalau kerasa familiar.”
Aku menggeleng pelan. “Bukan itu. Ini beda.”
Raka menatapku beberapa detik, lalu berkata tegas tapi tetap lembut, “Kamu capek. Nanti juga hilang.”
Mungkin dia benar.
Aku membuka pintu mobil. “Ayo turun, pelan-pelan ya.”
Bima langsung loncat turun begitu pintunya terbuka. “Aku mau pilih kamar duluan!”
“Bima, hati-hati! Jangan lari!” kataku cepat, refleks.
“Iyaaa…” jawabnya, tapi langkahnya tetap setengah berlari.
Alya turun lebih pelan. Dia berdiri di sampingku sebentar.
“Bunda,” katanya pelan, “rumahnya sepi ya.”
Aku menoleh padanya. Cara dia mengatakannya bukan takut, lebih seperti mengamati.
Aku mengusap kepalanya lembut. “Iya, nanti juga terasa ramai kalau kita sudah tinggal.”
Kami berjalan menuju pintu. Saat kakiku menyentuh tanah halaman, sensasi dingin menjalar naik. Aku berhenti sesaat. Seolah-olah ada sesuatu yang mengenaliku.
“Ayo, Din,” panggil Raka dari depan pintu, sudah siap dengan kunci.
Aku mengangguk dan menyusul.
Pintu terbuka dengan bunyi klik yang menggema. Begitu kami masuk, udara dingin langsung menyambut. Bukan sekadar dingin karena kosong—tapi dingin yang terasa diam.
“Wahhh!” Bima langsung berlari ke tengah ruang tamu. “Ini bisa buat main kejar-kejaran!”
“Enggak boleh lari di dalam rumah,” tegur Raka tegas, tapi tidak keras.
Bima langsung berhenti. “Oh, iya.”
Alya berjalan pelan, matanya menyapu ruangan. “Cahayanya kurang masuk,” katanya singkat.
Aku tersenyum kecil. “Nanti kita buka semua jendelanya, ya.”
Tapi aku sendiri masih berdiri di ambang pintu.
Ruangan ini terasa penuh. Padahal kosong. Tangga di sisi kanan langsung menarik perhatianku. Dan tiba-tiba—aku tahu rasanya berdiri di sana.