Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #2

Adaptasi Keluarga

Pagi di rumah itu datang tanpa suara yang benar-benar baru. Yang berubah hanya cahaya—lebih terang, lebih jujur. Sisanya tetap sama: sunyi yang terasa punya lapisan, seperti ada hal-hal yang tidak ikut bangun bersama kami.

Aku sudah berdiri di dapur sejak subuh, mencoba membuat rutinitas sederhana terasa normal. Suara ketel, bunyi sendok di gelas, langkah kecil Bima yang sudah bangun lebih dulu dari biasanya.

“Bunda!” Bima masuk dengan rambut masih berantakan. “Aku boleh keliling rumah lagi nggak?”

Aku tersenyum. “Boleh, tapi jangan naik ke tempat yang tinggi sendirian.”

“Siap!” katanya cepat, lalu langsung berlari lagi.

“Astaga…” gumamku pelan, tapi tidak benar-benar kesal.

Alya turun beberapa menit kemudian. Seragam sekolahnya rapi seperti biasa. Wajahnya juga tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya.

“Siap sekolah?” tanyaku sambil menyodorkan roti.

Alya mengangguk kecil. “Iya.”

Tidak banyak kata. Tapi aku tahu itu bukan dingin—hanya cara dia membaca dunia.

Raka muncul terakhir dengan pakaian kerja. Matanya lebih tenang dibanding kemarin, meski aku tahu pikirannya masih penuh.

“Gimana?” tanyaku pelan.

Dia menghela napas. “Aku ada meeting siang ini. Ada peluang proyek lagi.”

Aku mengangguk. “Bagus.”

Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku antar Alya dulu.”

Aku mengangguk lagi.

Alya dan Raka memulai sarapannya. Aku ikut menemani. Begitu selesai, mereka langsung bersiap-siap untuk pergi.

Alya sempat berhenti di dekat pintu.

“Bun,” katanya pelan.

“Iya, Al?”

“Rumah ini… pagi-pagi udah sunyi.”

Aku tersenyum kecil. “Memang begitu, rumah baru.”

Alya mengangguk, tapi matanya seperti menyimpan sesuatu yang tidak dia ucapkan.

Setelah mereka pergi, rumah langsung berubah jadi lebih hening.

Tinggal aku dan Bima.

“Bunda!” teriaknya dari ruang tamu. “Aku nemu tempat aneh lagi!”

Aku langsung menoleh. “Bima, pelan-pelan.”

“Aku belum masuk! Cuma lihat!”

Aku berjalan cepat menuju ke ruang tamu.

Lihat selengkapnya