Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #3

Kakak Arga

Malam pun datang, dan meski kami sudah berkumpul di meja makan, suasananya tetap terasa terlalu sunyi—seperti suara kami tidak benar-benar memenuhi ruangan, hanya tenggelam di dalamnya.

Di atas meja makan sudah penuh dengan hidangan sederhana yang kubuat seadanya: nasi hangat, sayur bening, dan lauk yang masih mengepul sedikit. Tidak ada yang istimewa, tapi aku sengaja ingin hari ini tetap terasa “normal”.

Alya melirik sekeliling sebentar sebelum duduk.

“Rumahnya memang sepi begini ya,” katanya tenang sambil menuang air minum. 

“Mungkin karena jauh dari jalan raya. Nggak ada suara kendaraan sama sekali,” ucap Raka di sebelahnya.

Alya mengangguk pelan. 

Memang sejak siang tadi aku pun sudah menyadarinya—tidak ada suara motor, tidak ada anjing tetangga, bahkan tidak ada percakapan dari rumah sebelah. Seolah-olah rumah ini berdiri sendirian di ruang yang lebih luas dari seharusnya.

“Dan nggak ada rumah lain dekat sini,” lanjut Raka sambil mengambil piring. “Tempat ini masih baru, belum banyak yang isi.”

Alya duduk dengan rapi, seperti biasa. Bima sudah tidak sabar sejak tadi.

“Aku lapar banget,” katanya sambil langsung duduk.

“Cuci tangan dulu,” tegur Raka refleks.

“Iyaaa…”

Aku tersenyum kecil melihat mereka. Untuk sesaat, suasana ini terasa seperti keluarga yang sedang berusaha menyesuaikan diri di tempat baru.

Kami mulai makan.

“Alya,” aku membuka percakapan, “hari pertama sekolah gimana?”

Alya mengunyah pelan sebelum menjawab. “Bagus.”

Aku menunggu, tapi tidak ada tambahan.

“Teman-temannya gimana?” tanya Raka.

“Baik.”

“Guru?”

“Baik juga.”

Jawabannya singkat semua. Terlalu rapi. Terlalu tertutup.

Bukan dingin, tapi seperti seseorang yang belum merasa perlu membuka dirinya.

Raka mengangguk kecil. “Yang penting nyaman.”

Lihat selengkapnya