Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #6

Ruangan Terkunci

Sejak Alya menunjukkan foto itu, pikiranku tidak benar-benar tenang. Ada terlalu banyak hal yang terasa tidak pas. Foto keluarga dengan tiga anak. Wajah yang buram. Lalu Bima… dengan ceritanya tentang “Kak Arga”. Dan tanpa sadar, semuanya seperti mengarah ke satu titik. Ruang kecil di dapur.

Siang itu, aku berdiri di depannya lagi. Pintu itu tampak biasa saja—kayu tua, gagang besi yang sedikit kusam. Tapi semakin lama aku melihatnya, semakin terasa seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Aku menyentuh gagangnya. Masih terkunci.

“Din.”

Suara Raka dari belakang membuatku menoleh.

Dia baru pulang, tas kerjanya masih di tangan. Tatapannya langsung jatuh ke pintu itu, lalu kembali ke aku.

“Kamu ngapain di situ?”

“Aku mau buka ini,” jawabku jujur.

Raka langsung menghela napas. “Dina…”

“Kita nggak tahu isinya apa,” lanjutku. “Dan ini dari kemarin selalu dikunci.”

“Memang dikunci,” jawabnya singkat.

Aku menatapnya. “Kuncinya mana?”

Raka terdiam sebentar, lalu berkata, “Nggak ada.”

Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Pemilik sebelumnya bilang kuncinya hilang,” jawabnya, nadanya datar. “Jadi ya… memang nggak bisa dibuka.”

Aku menatap pintu itu lagi.

Lalu kembali ke Raka.

“Kamu percaya begitu saja?”

Raka mengangkat bahu. “Itu hal biasa. Banyak ruang penyimpanan lama yang kuncinya hilang.”

“Raka,” suaraku pelan tapi tegas, “ini bukan cuma soal ruang penyimpanan.”

Dia menatapku sekarang, lebih serius.

Lihat selengkapnya