Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #7

Bima dan Arga Semakin Dekat

Aku sedang merapikan seprai di kamar Bima ketika anak itu tiba-tiba berkata dari balik tumpukan lego di lantai.

“Bun, waktu kecil Bunda pernah duduk di depan rumah sampai sore cuma karena kucing Bunda mati ya?”

Tanganku langsung berhenti menarik ujung seprai.

Aku menoleh perlahan.

“Apa?”

Bima masih menyusun balok-balok kecilnya, sama sekali tidak sadar kalau dadaku baru saja terasa jatuh.

“Yang warna oren itu,” lanjutnya santai. “Bunda nangis terus sampai nggak mau masuk rumah. Kata Kak Arga, Bunda marah sama semua orang waktu itu.”

Aku menatapnya tanpa bisa langsung bicara. Tidak ada satu pun orang di rumah ini yang tahu cerita itu selain aku dan Raka. Aku tidak pernah menceritakannya pada Alya ataupun Bima karena rasanya terlalu memalukan untuk dikenang. 

Waktu itu umurku sekitar sembilan tahun. Kucing peliharaanku mati ditabrak motor, dan aku duduk di teras rumah hampir seharian sambil menangis sampai ibuku membujuk berkali-kali agar aku masuk. Raka tahu cerita itu hanya karena aku pernah menceritakannya sekali, bertahun-tahun lalu, saat kami belum menikah.

“Bima…” suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan, “siapa yang bilang begitu?”

“Kak Arga.”

Nama itu lagi. Kemarin dia menyebut nama itu sekali saat makan malam. Aku dan Raka tidak menganggapnya serius. Anak kecil memang sering punya teman khayalan. Aku sama sekali tidak memikirkannya lagi setelah itu. 

Tapi sekarang berbeda. Karena cerita tentang kucing itu, tidak mungkin Bima tahu.

Aku berusaha tetap tersenyum dan duduk di samping tempat tidurnya.

“Hmm… Kak Arga tahu banyak ya tentang Bunda.”

“Iya.” Bima mengangguk cepat. “Dia suka cerita.”

“Cerita apa aja?”

“Macem-macem.”

Aku tertawa kecil, berusaha terdengar seperti ibu yang hanya sedang mengikuti khayalan anaknya. Meski dalam hati pikiranku mulai berantakan.

“Contohnya?”

Bima berpikir sebentar, lalu berkata lebih pelan,

“Katanya Bunda kalau sedih suka diem. Tapi kalau marah malah jadi baik banget.”

Aku terdiam sesaat. Kalimat itu terasa terlalu tepat.

“Terus Kak Arga bilang kalau Bunda capek, Bunda suka duduk di pinggir kasur sambil meluk bantal. Kayak tadi pagi.”

Jantungku berdetak lebih keras.

Tadi pagi aku memang sempat duduk diam di kamar setelah mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Bima masih tidur waktu itu. Setidaknya kupikir begitu.

“Bima lihat Bunda tadi pagi?”

“Nggak.”

“Terus tahu dari mana?”

Lihat selengkapnya