Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #9

Pembukaan Kamar

Pagi itu rumah terasa terlalu sunyi.

Alya sudah berangkat sekolah lebih awal. Raka mengajak Bima ikut berbelanja ke pasar karena katanya sekalian biar Bima keluar rumah. Aku mengangguk saja waktu itu, terlalu lelah untuk berdebat atau ikut pergi.

Begitu pintu tertutup, rumah langsung berubah. Bukan hanya sepi, tapi kosong dengan cara yang berbeda. Seolah ada satu bagian dari rumah ini yang akhirnya dibiarkan sendirian bersama aku.

Aku berdiri di dapur cukup lama tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Pandanganku jatuh ke arah sisi dapur.

Pintu kecil itu. Masih belum terbuka. Terkunci. Dan entah kenapa, hari ini rasanya lebih “terlihat” dari biasanya.

Aku berjalan ke ruangan kecil itu. Aku berdiri di depan pintunya cukup lama. Tangan kiriku perlahan menyentuh gagangnya.

Dingin. Aku menelan ludah.

“Aku cuma lihat,” bisikku pelan pada diri sendiri, seperti sedang meminta izin.

Gagang itu tidak bergerak. Terkunci. Aku menghela napas, lalu berjalan ke sisi dapur yang lain, mencari alat seadanya.

Aku tidak tahu berapa lama aku berusaha. Beberapa kali hampir menyerah. Beberapa kali hampir berhenti. Tapi ada sesuatu yang aneh, seperti dorongan kecil di dalam kepalaku yang terus mengatakan “coba lagi”.

Sampai akhirnya—klik.

Suara itu membuat jantungku langsung melonjak. Aku berhenti total. Ruangan itu terbuka sedikit. Hanya celah kecil. Tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa pintu itu benar-benar bisa dibuka.

Aku mendorongnya perlahan. Dan udara yang keluar dari dalam langsung berbeda. Lembap. Penuh debu lama. Aku batuk kecil sambil masuk perlahan.

Ruang itu kecil. Lebih kecil dari yang kubayangkan. Seperti ruang yang dibuat bukan untuk dipakai, tapi untuk disembunyikan. Debu menutupi hampir semua permukaan. Tapi yang membuatku berhenti bukan itu. Melainkan tanda-tanda kehidupan kecil yang tidak masuk akal.

Di sudut, ada beberapa mainan tersusun rapi. Mobil-mobilan kecil. Boneka kecil yang duduk berjejer menghadap dinding. Dan di salah satu dinding terdapat coretan. Bukan coretan sembarangan. Seperti tinggi badan yang ditandai. Ada beberapa garis, beberapa nama kecil yang sudah pudar. Tanganku perlahan menyentuh salah satu mainan. Bersih di bagian tertentu. Seolah baru disentuh belum lama ini.

Dadaku mulai terasa tidak nyaman. Aku melangkah lebih dalam. Dan di pojok ruangan, aku melihatnya. Kardus kecil. Tidak besar. Hanya kardus cokelat biasa, sedikit penyok di salah satu sisi. Namanya tidak tertulis. Tapi ada sesuatu tentang cara kardus itu diletakkan… terlalu rapi untuk ruang yang seharusnya tidak pernah dipakai lagi.

Aku berjongkok pelan. Tanganku ragu sebelum membukanya. Lalu aku menarik tutupnya. Di dalamnya ada beberapa berkas. Foto lama. Beberapa kertas yang sudah menguning dan satu buku catatan kecil. 

Napasku tertahan. 

Aku mengambil satu foto. Foto rumah ini, tapi sedikit berbeda. Lebih tua dan lebih kosong.

Di depan rumah ada satu anak kecil. Seorang anak laki-laki yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Namun wajah anak tersebut tidak terlalu jelas. Di balik foto itu juga tidak ada catatan. Sehingga aku tidak punya petunjuk sedikit pun tentang anak yang ada di foto itu. Tubuhku mulai mendingin. Bukan karena suhu ruangannya, tapi karena perasaan tidak enak yang mengerubungiku. 

Aku menaruh kembali foto itu dan mengambil buku catatan kecil yang ada di kardus. Aku membuka dengan tangan sedikit gemetar. Tidak ada catatan, hanya coretan-coretan abstrak.

Lihat selengkapnya