Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #10

Petunjuk Pertama

Setelah makan malam, menemani Bima bermain dengan mainan barunya sebentar, lalu membereskan rumah hingga akhirnya rumah tenggelam dalam kesunyian. Lampu-lampu utama di rumah telah dimatikan. Hanya cahaya redup dari lampu teras yang masuk melalui celah jendela. 

Di kamar, aku berbaring di samping suamiku dengan mata terpejam. Berpura-pura tidur. Padahal pikiranku terus kembali pada satu benda yang belum sempat kubuka. 

Sebuah map berwarna cokelat. Map yang kulihat tadi pagi. Map yang bertulisan RS. HB. Saanin di bagian depannya.

Aku menunggu. Menunggu nafas Raka menjadi lebih teratur. Dari luar kamar kami, juga sudah sunyi. Tanda kedua anakku juga sudah tidur di kamarnya.

Ketika akhirnya aku yakin semua orang sudah tertidur, aku perlahan membuka mata. Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan lewat tengah malam. Aku duduk pelan-pelan di tepi ranjang. 

Kasur sedikit bergerak. Aku langsung membeku. Suamiku bergeming sebentar lalu kembali mendengkur ringan. Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan.

Dengan langkah hati-hati, aku keluar dari kamar. Lorong rumah terasa berbeda pada malam hari. Lebih panjang. Lebih sunyi. Lantai keramik yang biasanya tidak pernah kuperhatikan kini terdengar begitu keras setiap kali kakiku menyentuhnya.

Aku memandangi pintu kamar Alya yang berada tepat di depan kamar kami. Pintu kamarnya sedikit tertutup seperti biasa. Tidak terdengar suara apapun dari dalam.

Di sebelahnya, pintu kamar Raga masih sedikit terbuka. Aku berjalan pelan menuju kamar Raga. Dari celah pintu, aku melihatnya tertidur sambil memeluk mobil mainan merah yang dibelinya tadi siang.

Pemandangan itu membuatku tersenyum sesaat. Aku kemudian menutup pintu kamarnya dengan pelan lalu melanjutkan langkah.

Menuju dapur. 

Ruangan itu gelap.

Aku tidak menyalakan lampu utama. Hanya lampu kecil di dekat kompor yang cukup menerangi jalan.

Bayangan-bayangan panjang terbentuk di dinding. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku berdiri di depan pintu ruangan kecil itu dengan misteri besarnya.

Tanganku terasa dingin saat meraih gagang pintu.

Klik. 

Pintu terbuka perlahan. Aku langsung menuju rak paling bawah.

Lihat selengkapnya