Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #11

Kilas Balik Pertama

Pagi datang terlalu cepat.

Aku berdiri di bawah guyuran air sambil memejamkan mata. Suara air yang jatuh dari kepala pancuran seharusnya membuat pikiranku lebih tenang, tetapi sejak semalam aku tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.

Arga.

Surat-surat itu masih terbayang jelas di kepalaku.

Nama ibu: Dina.

Nama anak: Arga.

Seorang bayi laki-laki yang menurut surat itu, kulahirkan tujuh tahun lalu.

Aku mengusap wajah.

Kenapa? Kenapa ada surat seperti itu? Kenapa ada foto anak itu? Apakah mainan yang tersimpan di sana itu miliknya? Dan yang paling membuatku takut, kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?

Semalam aku bahkan hampir ketahuan Alya.

Ketika kudengar langkah kecil menuju dapur. Aku panik dan langsung menutup pintu dari dalam. Aku mengintip dari celah kecil pintu yang tidak tertutup rapat. Ternyata itu adalah Alya. Ia ke dapur untuk mengambil minum. Ketika Alya sudah pergi, aku keluar dari ruangan itu dan langsung kembali ke kamar.

Air terus mengalir. Aku mencoba mengingat wajah seorang bayi, tidak ada. Mencoba mengingat rumah sakit, tidak ada. Mencoba mengingat bagaimana rasanya menggendong bayi laki-laki, tetap kosong. Namun anehnya, semakin aku berusaha melupakan semuanya, semakin jelas wajah Arga muncul di pikiranku.

Tujuh tahun. Bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan anaknya sendiri selama tujuh tahun?

Aku menarik napas panjang. Tiba-tiba—

“Hihihi…”

Aku membuka mata. Suara tawa anak kecil terdengar dari luar kamar mandi. Aku terdiam.

“Hihihi...”

Sekali lagi. Tawa anak kecil.

Aku langsung berpikir itu Bima. Mungkin dia sudah bangun.

“Bima?”

Tidak ada jawaban.

Aku mematikan keran, mengambil handuk, lalu cepat-cepat keluar dari kamar mandi.

“Bima?”

Aku melihat ke seluruh kamar. Tidak ada siapa-siapa. Hanya aku dan Raka. Suamiku ternyata sudah terbangun dan sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menatapku.

Aku mengernyit.

“Bima di mana?”

Raka mengangkat alis.

Lihat selengkapnya