Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #12

Penyelidikan Diam-diam

Sejak Raka dan anak-anak pergi, aku tidak bisa diam. Pertanyaan tentang Arga terus berputar-putar di kepalaku. Siapa dia? Apakah barang-barangnya terkunci di ruangan itu? Kenapa ada foto dirinya di rumah ini? Dan kalau aku benar-benar pernah melahirkannya, kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?

Aku akhirnya memutuskan untuk mencari jawaban sendiri.

Aku mengambil foto anak laki-laki itu dan memasukkannya ke dalam tas. Aku juga membawa map yang berisi surat-surat itu. Kalau memang anak itu benaran ada dan pernah tinggal di rumah ini, pasti orang sekitar mengenalnya.

Aku keluar rumah dan mulai berjalan menyusuri lingkungan sekitar. Rumah kami ternyata cukup jauh dari jalan utama. Semakin jauh aku berjalan, semakin sedikit rumah yang terlihat.

Aku mencoba mengetuk beberapa rumah yang kutemui. Tidak ada jawaban. Rumah lain juga kosong. Aku berjalan semakin jauh sampai akhirnya menemukan sebuah rumah kecil di balik pepohonan.

Rumah itu tampak tua dan sederhana. Aku mengetuk pintunya. Tok. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap sunyi. Aku mencoba melihat melalui celah jendela, tetapi bagian dalamnya gelap. Tidak ada siapa-siapa.

Aku menghela napas. Rasanya seperti sedang mengejar sesuatu yang sengaja tidak ingin ditemukan. Akhirnya aku kembali ke jalan utama dan memutuskan pergi ke kantor kelurahan setempat.

Di kantor kelurahan, aku berdiri di depan meja seorang petugas yang sejak awal terlihat sangat berhati-hati.

“Saya ingin menanyakan soal anak bernama Arga,” kataku.

Petugas itu membaca sekilas.

“Arga siapa, Bu?”

Aku menunjukkan Akta Kelahiran anak tersebut.

“Namanya Arga. Saya menemukan ini di rumah saya.”

Petugas itu melihat tanggal lahirnya.

“Maaf, Ibu ingin mengetahui soal apa?”

“Semuanya.”

Aku mengeluarkan foto rumah.

“Rumah ini. Saya ingin tahu siapa penghuni sebelumnya.”

Petugas itu melihat foto tersebut cukup lama.

“Ini alamatnya?”

“Iya.”

“Mohon maaf, Bu. Kami tidak bisa memberikan informasi yang merupakan data pribadi, kecuali Ibu sudah memiliki izin tertulis dari yang bersangkutan.”

Aku mulai kehilangan kesabaran.

“Tapi anak ini tercatat sebagai anak saya.”

Petugas itu terdiam.

“Kalau begitu, Ibu bisa membawa dokumen resmi yang membuktikan hubungan keluarga.”

“Ada.”

Aku mengeluarkan Surat Keterangan Kelahiran.

Petugas itu membaca sekilas lalu mengembalikannya.

“Surat ini saja belum cukup bagi kami untuk membuka data kependudukan. Kami juga perlu surat kuasa, Bu.”

Lihat selengkapnya