Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #13

Penolakan Raka

Aku mengikuti Raka menuju mobil tanpa mengatakan apa-apa. Begitu pintu mobil dibuka, aku baru menyadari bahwa Bima ternyata sudah berada di dalam. Ia duduk di kursi belakang sambil memainkan sebuah mobil-mobilan.

Aku langsung menahan semua pertanyaan yang sejak tadi ingin kulontarkan kepada Raka. Aku tidak ingin membicarakan Arga di depan Bima. Aku bahkan tidak ingin menyebut nama itu lagi sebelum kami sampai di rumah.

Raka masuk ke kursi pengemudi. Aku duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Aku hanya sesekali melihat Raka dari sudut mata. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Padahal seharusnya ia mulai panik karena akhirnya aku mengetahui bahwa menyembunyikan sesuatu dariku.

Begitu sampai di rumah, Bima langsung berlari masuk.

“Aku mau main!”

Raka mematikan mesin mobil.

“Kamu masuk dulu.”

Aku menunggu sampai Bima benar-benar masuk ke rumah. Setelah itu aku mengikuti Raka menuju kamar. Begitu pintu tertutup, aku langsung berbalik menghadapnya.

“Kamu tahu sesuatu.”

Raka menatapku.

“Apa?”

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

“Aku nggak pura-pura.”

“Di rumah sakit tadi, wajah kamu langsung begitu ngelihat aku.”

Raka menghela napas.

“Dina…”

“Jangan panggil aku begitu seolah-olah semuanya baik-baik saja!”

Suaraku meninggi.

“Aku menemukan surat rumah sakit yang bilang aku melahirkan anak laki-laki bernama Arga. Aku menemukan fotonya, mainannya, sampai akta kelahirannya. Aku menemukannya di ruangan yang kamu kunci!”

Raka tetap diam.

“Kamu tahu sesuatu, kan?”

Tidak ada jawaban.

“Ngomong!”

Aku mulai kehilangan kendali.

“Siapa Arga?”

Raka masih diam.

“Kenapa aku nggak ingat dia?”

Diam.

“Kenapa Bima bisa tahu soal dia sementara aku dan Alya enggak?”

Raka hanya menatapku.

“Kamu juga tahu, kan?!”

Aku mulai menangis. Aku mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Raka.

“Kamu tahu sesuatu dan kamu sengaja nggak mau bilang!”

Raka tidak melawan. Aku semakin marah.

“Selama ini aku hidup dengan apa, Raka?! Kebohongan?!”

Aku mengambil barang yang ada di meja dan meletakkannya kembali dengan kasar.

“Kalau memang ada sesuatu yang terjadi tujuh tahun lalu, bilang!”

Raka tetap diam. Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang kukatakan.

Semua rasa takut, bingung, marah, dan frustrasi yang sejak kemarin menumpuk akhirnya meledak.

“Kenapa semua orang seperti tahu sesuatu kecuali aku?!”

Lihat selengkapnya