Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #15

Perubahan Rumah

Aku memejamkan mata sesaat lalu membukanya kembali. Aku masih berada di rumah yang sama, tapi bukan rumah yang kukenal.

Aku menatap pintu depan rumah. Harusnya pintu itu berwarna putih dengan permukaan yang sudah sedikit kusam Namun pintu yang kulihat saat ini berwarna putih gading. Catnya juga masih terlihat baru.

Aku menoleh ke sekeliling. Ruang tengah juga berubah. Sofa yang biasanya hanya terdiri dari satu warna polos kini memiliki sarung bermotif bunga. Di atas meja terdapat vas berisi bunga segar. Dinding yang biasanya kosong dipenuhi foto-foto lukisan.

Ada banyak foto. Terlalu banyak. Aku mendekati salah satu foto. Tanganku hampir menyentuhnya. Namun tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.

Gedebuk!

Aku tersentak. Disusul suara langkah kaki. Cepat. Kecil. Bertubi-tubi. Seperti beberapa anak sedang berlari di sepanjang lorong lantai dua.

“Jangan lari!”

Terdengar suara perempuan dari atas. Kemudian suara tawa. Tawa anak-anak. Aku mendongak. Jantungku berdebar. Aku mengenal suara itu. Entah dari mana. Suara itu terdengar begitu akrab. Namun aku tidak bisa mengingat siapa pemiliknya.

“Arga!”

Suara perempuan itu kembali terdengar. Aku membeku. 

Arga? Itu anaknya. Aku menatap tangga. Kemudian terdengar suara anak laki-laki.

“Bukan aku!”

Langkah kaki kembali terdengar.

Gedebuk! Gedebuk! Gedebuk!

Aku masih berdiri di lantai bawah dekat tangga dengan napas tertahan. Aku merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang pernah terjadi. Sesuatu yang sangat nyata. Namun aku tidak mengingatnya. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar pernah berada di rumah ini.

“Ini…”

Aku berbisik.

“Rumah siapa?”

Tiba-tiba seseorang melewatiku. Seorang anak laki-laki kecil berlari dari tangga menuju ruang tengah. Aku langsung menoleh. Anak itu tidak memperhatikanku. Ia hanya tertawa sambil membawa sebuah mobil-mobilan merah.

Aku menatapnya. Wajahnya terasa familiar. Sangat familiar.

“Bima?” ucapku.

Anak itu berhenti. Ia menoleh sebentar ke arahku. Aku terdiam. Ia tidak mungkin melihatku. Atau mungkin… ia melihatku? Namun sebelum aku sempat mendekatinya, seorang anak perempuan berlari menuruni tangga.

“Arga! Tunggu!” ucap seorang anak perempuan dari arah belakang.

Aku menoleh ke arah suara dan terkejut. Seorang anak perempuan datang menyusul. Aku mengenali anak perempuan itu. Anak itu adalah Alya, tetapi terlihat lebih kecil. Jauh lebih kecil daripada sekarang.

Keduanya berlari melewatiku. Aku hanya bisa berdiri dan menatap. 

Lihat selengkapnya