Malam itu, setelah Raka, Alya dan Bima tidur, aku masih duduk sendirian di ruang tengah. Rumah terasa begitu sunyi. Terlalu sunyi. Aku masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Suara anak laki-laki itu masih terngiang jelas di telingaku.
“Mama…”
Aku merinding setiap kali mengingatnya. Aku tidak tahu kenapa suara itu terasa begitu familiar. Bukan sekadar familiar seperti pernah mendengar suara seseorang sebelumnya, namun sesuatu yang lebih dalam. Seperti ada bagian dari diriku yang mengenali suara itu. Tapi aku tidak tahu siapa pemiliknya.
Arga. Nama itu kembali muncul di kepalaku.Aku memejamkan mata sebentar, dan lagi-lagi aku melihat rumah itu. Pintu berwarna putih gading. Sofa bermotif bunga. Foto-foto lukisan di dinding. Anak-anak yang berlari di lantai atas. Alya dan Arga.
Aku membuka mata dengan cepat.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku.
Tidak ada jawaban. Aku mengembuskan napas panjang dan mencoba mengalihkan pikiran, namun baru beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari tangga.
Aku langsung menoleh. Seseorang menuruni anak tangga.
“Bun?”
Aku mengenali suara itu. Alya.
“Alya?”
Begitu melihat wajahnya, aku langsung merasa ada yang tidak beres. Wajahnya pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya juga terlihat sembap, seperti habis menangis.
“Ya ampun, Alya. Kamu kenapa?”
Alya tidak langsung menjawab. Dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Aku bergeser sedikit untuk memberinya tempat duduk.
“Kok belum tidur?” tanyaku
Alya menunduk. Beberapa detik kemudian, dia berkata pelan.
“Aku nggak bisa tidur, Bun.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Alya menarik napas panjang.
“Aku takut mimpi lagi.”
Aku terdiam.
Mimpi? Entah kenapa, satu kata itu langsung membuat pikiranku kembali pada semua kejadian tadi.
“Ceritain sama Bunda.”
Alya memainkan jari-jarinya sendiri.
“Aku sudah mimpi itu sejak pertama kali pindah ke sini.”
Aku menatapnya.
“Mimpi apa?”
“Mimpi buruk.” jawabnya singkat.
“Setiap malam?”
“Awalnya nggak.”
Alya menggeleng.
“Tapi sekarang hampir setiap malam,” lanjut Alya.
Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadaku.
“Mimpinya tentang apa?”
Alya diam cukup lama. Seolah-olah hanya dengan mengingatnya saja sudah membuatnya takut.
“Ada seorang perempuan.”
Aku langsung memperhatikannya.
“Perempuan?”
“Iya.”
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Wajahnya?”