Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #17

Ingatan yang Pecah

Keesokan paginya, rumah terasa semakin sunyi. Aku sengaja tidak membicarakan kejadian kemaren dengan Raka atau pun dengan Alya dan Bima. Aku sendiri masih belum tahu harus menganggapnya sebagai apa. Ingatan? Mimpi? Atau sesuatu yang memang pernah terjadi?

Pagi itu, aku mencoba mengalihkan pikiranku dengan membersihkan rumah. Bima sedang bermain di kamarnya. Aku membawa ember dan alat pel ke ruang tengah.

“Kalau rumah sudah bersih, mungkin kepalaku juga bisa lebih tenang,” gumamku.

Aku mulai mengepel lantai. Pelan-pelan. Sampai akhirnya aku tiba di area dekat tangga. Tanganku berhenti. Aku menatap lantai itu. Entah kenapa, dadaku kembali terasa sesak. Aku masih bisa mengingat potongan masa lalu itu. Masa lalu yang tidak tahu milik siapa.

Beberapa kali aku mengusap lantai dengan gerakan maju mundur. Namun saat hendak mundur, kakiku tiba-tiba menginjak bagian lantai yang masih basah.

“Ah—!”

Tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh begitu saja. Kepalaku sempat terbentur lantai di dekat tangga.

Sakit.

Aku memejamkan mata sambil memegangi kepala. Pandanganku berkunang-kunang. Namun sebelum rasa sakit itu mereda, tiba-tiba sesuatu muncul di kepalaku.

Sebuah ingatan. Aku melihat ruang tengah ini. Tangga itu dan lantai yang sama, tapi suasananya berbeda.

Di dekat tangga, ada seorang anak laki-laki tergeletak di lantai. Tidak bergerak. Tidak bernapas.

“Arga!”

Aku tersentak. Aku melihat diriku sendiri berlari menghampiri anak itu.

“Arga! Arga, bangun!”

Aku mengguncang tubuhnya. Tanganku gemetar hebat. Aku menangis. Aku berteriak. Aku memanggil namanya berkali-kali, tetapi dia tidak menjawab.

Aku ingat bagaimana tubuhku terasa lemas ketika menyadari bahwa anak itu sudah tidak bernyawa.

Aku ingat teriakan, kepanikan, dan rasa tangis. Aku bahkan ingat amarah yang begitu besar sampai aku tidak tahu harus menyalahkan siapa.

“Kenapa?! Kenapa kamu tinggalkan Mama?!”

Lihat selengkapnya