Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #18

Pengungkapan

Pesan itu masih terbuka di layar ponselku. “Yth. Ibu Dina Pratama, dokumen yang Ibu minta terkait Surat Keterangan Kelahiran atas nama Arga Pratama sudah selesai dperiksa dan hasil pemeriksaan dapat diambil di bagian administrasi RS. HB Saanin.”

Aku membacanya berulang kali.

Arga Pratama. 

Nama itu sekarang terasa berbeda. Dulu, setiap kali nama itu muncul, aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa Arga hanyalah sesuatu yang tidak nyata. Bayangan dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar ada. Seorang anak yang entah bagaimana bisa masuk ke rumah, ke mimpi-mimpiku, bahkan ke ingatan Bima. Tapi sekarang aku sudah melihat dokumennya. Aku sudah melihat namaku sendiri sebagai ibu. Dan aku tidak bisa lagi menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Aku meletakkan ponsel di atas meja. Tanganku masih gemetar. Aku menoleh ke arah ruang tengah.

Raka sedang duduk di sofa. Ia menatap televisi, tetapi aku tahu ia tidak benar-benar memperhatikannya.

Aku sengaja tidak langsung ke rumah sakit karena aku menunggu Raka pulang dan memberitahunya. Meskipun aku tidak tahu apakah harus memberitahunya tentang pesan dari rumah sakit atau tidak.

Untuk beberapa detik, aku hanya memandangnya.

“Sayang,” panggilku lembut.

Ia menoleh.

“Iya sayang?”

Aku mengangkat ponsel.

“Aku dapat pesan dari rumah sakit.”

Wajahnya langsung berubah. Tidak banyak. Hanya sepersekian detik. Tapi aku melihatnya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Hasil pengecekan dokumen Arga sudah bisa diambil.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatapku.

Aku menunggu. Namun beberapa detik kemudian, ia mengalihkan pandangan.

“Ya udah, ambil aja.”

Aku mengerutkan kening.

“Cuma itu?”

“Ya, aku harus gimana?”

Aku tidak menjawab. Sebenarnya ada banyak yang ingin kutanyakan.

Kenapa kau tidak terkejut? Kenapa kau terlihat seperti sudah tahu? Kenapa setiap kali aku menyebut nama Arga, wajahmu selalu berubah? Tapi semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokan.

Aku akhirnya berdiri.

“Aku pergi besok.”

Raka mengangguk. Aku berjalan meninggalkannya. Namun sebelum pergi, aku berhenti lalu menoleh ke arahnya.

“Raka.”

Ia kembali melihatku.

“Kalau Arga memang tidak pernah ada…”

Aku sengaja berhenti.

“…kenapa rumah sakit punya dokumen kelahirannya?”

Raka diam. Aku menunggu jawabannya. Lama. Tapi seperti biasa, ia tidak menjawab. Aku pun pergi ke kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Keesokan paginya aku pergi sendirian. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Mungkin dokumen itu hanya akan membuktikan bahwa Arga benar-benar anakku. Mungkin di dalamnya ada nama Raka. Mungkin ada tanggal kelahiran, tempat kelahiran, berat badan, nama dokter dan hal-hal sederhana lainnya yang seharusnya tidak menakutkan. Tapi entah kenapa aku merasa takut.

Begitu sampai, aku langsung menuju bagian administrasi. Seorang petugas perempuan memeriksa identitasku.

“Bu Dina?”

Aku mengangguk.

“Betul.”

“Untuk dokumen atas nama Dina Maharani?”

Aku kembali mengangguk. 

Petugas itu mencari sesuatu di komputernya. Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan masuk ke ruangan kecil di belakang meja.

Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

Ketika ia kembali, tangannya membawa sebuah map tipis berwarna putih.

“Baik Bu, sesuai permintaannya kemaren, untuk Surat Keterangan Kelahiran atas nama Dina Maharani setelah kami lakukan pemeriksaan melalui salinan data di rekam medis kami, memang benar bahwa surat ini dikeluarkan oleh rumah sakit kami.”

Petugas itu menyerahkan dua dokumen padaku.

“Ini Surat Keterangan Kelahiran milik Ibu kemaren ya Bu, dan ini salinan data medisnya.”

Aku menerima kedua dokumen tersebut.

“Ini sudah semua ya?”

“Sudah Bu.”

Aku melihat map itu.

“Kenapa prosesnya cukup lama?”

Lihat selengkapnya