Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #19

Arga Menampakan Diri

Malam itu aku tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, kalimat yang kutemukan di rumah sakit kembali muncul di kepalaku.

“Pasien menunjukkan gangguan ingatan dan respons emosional berat pascatrauma.”

Aku membalik tubuh ke kiri. Beberapa detik kemudian kembali ke kanan. Tetap tidak bisa tidur. Di sampingku, Raka sudah terlelap. Atau setidaknya berpura-pura tidur. Aku menatap punggungnya dalam gelap. Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan.

Tentang Arga.

Tentang rumah sakit.

Tentang terapi.

Tentang apa yang terjadi tujuh tahun lalu.

Tetapi semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin aku sadar bahwa aku tidak bisa lagi hanya mengandalkan jawaban Raka. Aku harus mencari sendiri.

Aku meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Pukul 02.17. Aku membuka kembali foto dokumen yang sempat kuambil di rumah sakit. Aku memperbesar bagian yang tadi tidak terlalu kuperhatikan. Ada sebuah nomor di bagian bawah halaman. Nomor rekam medis. Aku mencatatnya. Kemudian aku membuka mesin pencarian dan mencoba mencari nama dokter yang tertulis di sana. Tidak banyak informasi.

Aku mencoba lagi dengan nama rumah sakit dan tahun. Beberapa hasil muncul, tetapi tidak ada yang benar-benar menjelaskan apa pun. Aku hampir menyerah ketika mataku menangkap satu kata yang membuatku berhenti.

“Psikiatri.”

Aku kembali melihat dokumen. Ada tanggal. Aku menghitung mundur. Tujuh tahun. Tanganku berhenti. Kalau catatan itu dibuat setelah Arga meninggal, berarti selama ini aku benar-benar pernah menjalani perawatan. Lalu kenapa aku tidak pernah mengingatnya?

Aku menoleh ke arah Raka. Masih membelakangiku. Aku bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Kakiku menyentuh lantai. Aku berjalan menuju meja kerja Raka.

Selama bertahun-tahun, aku hampir tidak pernah memeriksa isi yang ada di dalam lacinya. Laci itu biasanya terkunci. Tapi malam ini tidak. Aku mengambil kunci laci yang ada di dompet di dalam saku celananya yang tergantung.

Di atas meja ada beberapa dokumen pekerjaan. Aku tidak tertarik. Aku membuka laci pertama, tidak ada. Laci kedua, hanya beberapa kuitansi. Laci ketiga terkunci. Aku mencoba menariknya. Tidak bergerak. Aku menatap laci itu. Sepertinya kuncinya berbeda dengan kunci yang kupegang.

Aku pun mencari kunci di sekitar meja. Tidak ada. Aku membuka lemari kecil di samping meja, hanya ada beberapa buku dan sebuah kotak hitam.

Aku mengambilnya. Kotak itu ringan. Ketika kubuka, isinya hanya beberapa benda kecil. Kartu nama lama, flashdisk, dan sebuah kunci.

Aku menatap kunci itu. Kemudian melihat kembali laci yang terkunci. Aku tidak tahu apakah aku sedang melakukan sesuatu yang salah. Tapi aku memasukkan kunci itu.

Klik.

Laci terbuka.

Aku menariknya perlahan. Di dalamnya ada sebuah map hitam. Tidak ada tulisan di bagian luarnya. Aku mengambilnya. Jantungku berdebar. Aku membuka halaman pertama.

Kosong.

Halaman kedua.

Kosong.

Halaman ketiga—

Sebuah fotokopi dokumen.

Aku membaca bagian atasnya.

“Persetujuan Tindakan Terapi.”

Aku berhenti bernapas.

Nama pasien tertulis “Dina Pratama.” Tujuh tahun lalu. Tanganku mulai gemetar. Aku membaca bagian bawah.

“Pihak keluarga yang memberikan persetujuan: Raka Pratama.”

Aku menutup mata. Dadaku terasa sakit. Jadi benar. Raka memang terlibat. Aku membalik halaman. Ada beberapa formulir lain. Sebagian besar berisi istilah yang tidak kupahami. Namun ada satu kalimat yang bisa kubaca dengan jelas.

“Tujuan tindakan: mengurangi dampak psikologis akibat trauma berat dan meminimalkan akses pasien terhadap memori tertentu yang berkaitan dengan peristiwa traumatis.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali. 

Meminimalkan akses. Bukan menghapus. Bukan membuat lupa. Tapi meminimalkan akses.

Aku duduk di kursi Raka. Tanganku dingin. Ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku.

Peristiwa traumatis apa? Kematian Arga? Mungkin. Tapi kalau hanya kematian Arga, kenapa ada begitu banyak hal yang Raka sembunyikan?

Kenapa Bima bisa melihat Arga?

Lihat selengkapnya