Pagi itu aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Aku tidak tahu kenapa. Ada sesuatu yang terasa aneh sejak membuka mata. Aku menatap langit-langit kamar beberapa detik. Semuanya terlihat normal. Kamar kami. Lemari di sebelah kanan. Tirai yang sedikit terbuka. Suara burung dari luar.
Aku menoleh ke samping. Raka masih tidur. Aku mengembuskan napas lega. Mungkin semalam aku hanya terlalu lelah. Terlalu banyak hal terjadi dalam beberapa hari terakhir. Arga. Dokumen terapi. Foto lama. Suara yang menyuruhku untuk tidak mempercayai Raka. Dan percakapan yang entah bagaimana terasa begitu nyata.
Aku bangkit dari tempat tidur. Ketika kakiku menyentuh lantai, terdengar suara dari luar kamar.
“Bunda!”
Suara Bima.
Aku membuka pintu.
“Bima?”
Ia berdiri di lorong sambil membawa mobil-mobilannya.
“Bunda, sarapan.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya, tunggu sebentar.”
Aku turun ke dapur. Semuanya berjalan seperti biasa. Aku menyiapkan sarapan. Bima duduk di kursinya. Raka akhirnya turun beberapa menit kemudian. Alya menyusul setelahnya. Aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin semua yang terjadi selama ini akan berhenti. Mungkin aku hanya terlalu jauh masuk ke dalam masa lalu yang seharusnya tidak kusentuh.
Aku menuangkan teh ke cangkir Raka.
“Terima kasih,” katanya.
Aku mengangguk. Kemudian Bima berkata,
“Bunda, nanti kita main lagi sama Kak Arga?”
Tanganku berhenti. Cangkir yang sedang kupegang hampir terlepas. Raka menatap Bima.
“Arga siapa?”
Bima mengerutkan kening.
“Kak Arga.”
Raka diam. Aku menatap anakku.
“Kamu main sama Arga kapan?”
Bima menunjuk ke ruang tengah.
“Tadi.”
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya mobil-mobilan merah yang tergeletak di lantai. Aku menatapnya cukup lama. Raka kembali berkata,
“Bima, nggak ada Arga.”
Bima menatap ayahnya.
“Ada.”
Kemudian ia kembali makan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku mencoba menganggapnya biasa. Sampai beberapa menit kemudian, aku melihat jam di dinding. 08.15. Aku berdiri dan membawa piring ke dapur. Aku mencuci piring. Tidak lama. Mungkin hanya beberapa menit. Ketika aku kembali ke ruang makan, Raka sedang duduk di tempatnya. Alya juga. Bima juga. Tetapi sarapan masih belum dimulai. Aku berhenti.
“Kenapa?”
Raka menatapku.
“Kamu dari mana?”
Aku mengerutkan kening.
“Dari dapur.”
Raka tertawa kecil.
“Kamu baru mau mulai cuci piring.”
Aku menatap meja. Makanan masih utuh. Teh yang tadi sudah kuminum kembali penuh. Aku melihat jam. 07.42.
Aku membeku.
Aku menoleh ke arah jam lain di ruang tengah. 07.42. Aku kembali melihat jam tanganku. 07.42. Aku tidak mengerti. Tadi 08.15. Aku yakin. Aku sangat yakin.
“Kenapa, Sayang?” tanya Raka.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri sambil menatap jam. Mungkin jamnya rusak. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri. Ya. Mungkin aku salah melihat.
Aku menarik napas.