Aku masih memeluk Bima ketika suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Aku langsung menoleh.
Bima ikut menatap ke arah tangga.
Suara itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, Alya muncul dari kamarnya.
Wajahnya pucat.
Rambutnya sedikit berantakan.
Ia berdiri di ujung tangga sambil memegang pegangan.
“Alya?”
Ia tidak menjawab.
Aku melepaskan pelukanku dari Bima dan menghampirinya.
“Kamu kenapa?”
Alya menatapku.
Ada sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ketakutan.
Bukan ketakutan seperti ketika anak melihat sesuatu yang menyeramkan.
Ini berbeda.
Seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia ingat lagi.
“Alya?”
Ia akhirnya turun satu anak tangga.
“Bunda…”
“Iya?”
“Aku tadi mimpi.”
Aku mengangguk.
“Mimpi apa?”
Alya tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke belakang.
Ke arah lantai atas.
Aku mengikuti pandangannya.
Tidak ada siapa-siapa.
“Aku lihat tangga.”
Dadaku langsung terasa berat.
“Tangga?”
Alya mengangguk.
“Yang ini.”
Aku diam.
“Terus?”
Ia menggigit bibir.
“Aku lihat aku waktu kecil.”
Aku merasakan tengkukku merinding.
“Kamu?”
“Iya.”
Alya turun satu anak tangga lagi.
“Aku kecil.”
Ia mengusap lengannya sendiri.
“Aku sedang lari.”
Aku menatap wajahnya.
“Lari dari siapa?”
Alya menggeleng.
“Nggak tahu.”
Aku tidak memaksanya.
“Terus apa yang terjadi?”
Alya memejamkan mata.
“Ada anak laki-laki.”
Aku tidak bergerak.
“Siapa?”
Alya membuka matanya.
“Arga.”
Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Tanpa keraguan.
Tanpa pertanyaan.
Seolah-olah nama itu sudah lama tinggal di dalam kepalanya.
Aku menelan ludah.
“Kamu kenal Arga?”
Alya menatapku.
“Aku nggak tahu.”
“Bagaimana kamu bisa tahu namanya?”
Ia menggeleng.
“Aku cuma… tahu.”
Aku mendekatinya.
“Coba ingat lagi.”
Alya terlihat ragu.
“Aku takut.”
Aku langsung memegang tangannya.
“Nggak apa-apa.”
“Bunda…”
“Kamu nggak sendirian.”
Alya menatapku.
Kemudian perlahan ia mulai bercerita.
“Aku lihat Arga lari.”
“Ke mana?”
“Ke tangga.”
Jantungku berdegup lebih keras.
“Aku di belakangnya.”
Aku diam.
Alya memejamkan mata lagi.
“Aku manggil dia.”