Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring membelakangi Raka, tetapi mataku terus terbuka.
Aku mencoba menghubungkan semuanya.
Arga.
Rumah ini.
Alya.
Tangga.
Terapi.
Raka.
Dan sekarang ingatan Alya.
Aku memejamkan mata.
Kalau semua itu hanya kebetulan, kenapa potongannya saling berhubungan?
Aku membuka mata lagi.
Aku menatap jam di meja.
02.17.
Aku bangkit perlahan agar tidak membangunkan Raka.
Aku keluar dari kamar.
Rumah gelap.
Aku menyalakan lampu ruang tengah.
Kemudian aku mengambil sebuah buku catatan dari laci.
Aku duduk di meja makan.
Untuk pertama kalinya, aku mencoba menuliskan semuanya.
Di halaman pertama, aku menulis:
ARGA
Di bawahnya:
Anak laki-laki.
Aku berhenti.
Tanganku gemetar.
Kemudian aku menulis:
Anakku?
Aku menatap tulisan itu cukup lama.
Lalu aku menambahkan:
Alya mengenalnya.
Bima melihatnya.
Aku mengingatnya.
Aku menulis satu kata lagi.
Raka tahu.
Aku berhenti.
Kalimat terakhir itu terasa paling berat.
Aku membalik halaman.
Di bagian atas kutulis:
RUMAH
Di bawahnya:
Aku pernah melihat rumah ini seperti tujuh tahun lalu.
Ada Alya kecil.
Ada Arga.
Ada tangga.
Aku terdiam.
Tangga.
Aku mencoret kata itu.
Kemudian menulisnya lagi.
TANGGA.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi setiap kali ingatan tentang Arga muncul, tangga selalu ada di sana.
Aku menulis:
Arga berlari.
Alya mengejarnya.
Ada suara teriakan.
Arga jatuh.
Aku berhenti menulis.
Tanganku terasa dingin.
Aku belum pernah benar-benar melihat apa yang terjadi setelah itu.
Ingatan itu selalu berhenti sebelum aku bisa mengetahui penyebabnya.
Aku bersandar di kursi.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar tanpa sengaja.
Kenapa ingatanku berhenti di sana?
Kenapa setiap kali mencoba mengingat, kepalaku seperti menolak?
Aku teringat dokumen terapi.
Meminimalkan akses terhadap memori tertentu yang berkaitan dengan peristiwa traumatis.
Memori tertentu.
Berarti ada bagian yang sengaja dibuat sulit kuakses.
Tetapi kenapa?
Apa yang sebenarnya ada di balik bagian ingatan itu?
Aku kembali melihat catatanku.
Arga.
Rumah.
Tangga.
Alya.
Terapi.
Raka.
Semuanya seperti potongan puzzle.
Aku sudah memiliki hampir semua bagian.
Tetapi gambar akhirnya masih belum terlihat.
Aku mengambil ponsel.
Aku membuka galeri.
Foto-foto lama yang sempat kusimpan masih ada.
Aku melihat foto rumah.
Kemudian foto kamar.
Kemudian foto dokumen.
Aku berhenti pada satu foto.
Foto keluarga.
Aku memperbesar gambar itu.
Dina.
Raka.
Alya kecil.
Dan Arga.
Aku menatap wajah anak itu.
Untuk beberapa detik, aku merasa seperti mengenalnya.
Bukan sekadar mengenal wajahnya.
Aku seperti mengenal senyumnya.