Malam itu aku tidak menyalakan lampu kamar.
Aku duduk di ruang tengah dengan hanya cahaya dari lampu di sudut ruangan.
Buku catatanku masih berada di meja.
Di halaman terakhir tertulis beberapa kata yang terus membuatku gelisah.
Arga.
Alya.
Tangga.
Kecelakaan.
Dan di bawah semuanya:
Raka tahu.
Aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Raka masuk.
Ia meletakkan tasnya di atas meja.
“Belum tidur?”
Aku tidak menjawab.
Ia menatapku.
“Dina?”
Aku masih diam.
Raka kemudian berjalan mendekat.
“Kamu kenapa?”
Aku mengangkat kepala.
“Aku mau bicara.”
Raka berhenti.
“Sekarang?”
“Iya.”
Ia menarik napas.
“Besok saja.”
“Tidak.”
Suaraku membuatnya terdiam.
Aku berdiri.
“Aku sudah menunggu terlalu lama.”
Raka menatapku dengan wajah yang sulit kubaca.
Aku mengambil buku catatan dari meja dan membawanya ke hadapannya.
“Ini semua yang aku ingat.”
Raka tidak melihat buku itu.
“Dina…”
“Aku belum selesai.”
Aku membuka halaman pertama.
“Arga.”
Raka langsung menegang.
Aku melihatnya.
Dan kali ini aku tidak membiarkan mataku berpaling.
“Kamu bilang kita tidak pernah punya anak bernama Arga.”
Raka diam.
“Tapi rumah ini menyimpan barang-barangnya.”
Aku membuka halaman berikutnya.
“Aku menemukan foto.”
Halaman berikutnya.
“Aku menemukan dokumen kelahiran.”
Aku menatapnya.
“Namaku tertulis sebagai ibunya.”
Raka masih diam.
“Aku menemukan catatan terapi.”
Tangannya perlahan mengepal.
“Dan aku menemukan foto diriku sendiri sedang menjalani terapi.”
Aku mendekat.
“Jadi jangan bilang aku berhalusinasi.”
Raka menghela napas panjang.
“Aku tidak pernah bilang kamu gila.”
“Tidak?”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Lalu apa yang selama ini kamu lakukan?”
Raka tidak menjawab.
“Kamu terus mengatakan Arga tidak ada.”
Aku menunjuk kepalaku sendiri.
“Kamu membuatku meragukan ingatanku sendiri.”
“Karena aku ingin melindungimu.”
“Dari apa?”
Raka menatapku.
Aku menunggu.
“Dari masa lalu.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku mendekatinya lagi.
“Kamu melindungiku dari kebenaran.”
Raka menunduk.
Aku bisa melihat rahangnya mengeras.
“Kenapa?”
“Dina, dengarkan aku.”
“Tidak. Sekarang kamu yang dengarkan aku.”
Suaraku mulai bergetar.
“Aku bangun setiap hari dan merasa ada sesuatu yang hilang.”
Aku menunjuk dada.
“Aku merasa kehilangan seseorang, tapi aku tidak tahu siapa.”
Air mataku mulai jatuh.
“Aku melihat seorang anak yang seharusnya tidak kukenal, tapi tubuhku mengenalnya.”
Raka memejamkan mata.