Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #25

Pengakuan

Raka masih duduk di sofa.

Aku berdiri beberapa langkah di depannya.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun pernikahan kami, aku merasa seperti sedang berhadapan dengan orang asing.

Bukan karena wajahnya berubah.

Bukan karena suaranya.

Tetapi karena aku akhirnya tahu bahwa ada bagian dari hidup kami yang sengaja disembunyikannya dariku.

Dan bagian itu bernama Arga.

Aku menarik napas.

“Mulai dari awal.”

Raka menunduk.

Aku menunggu.

Tidak ada jawaban.

“Raka.”

Ia mengangkat wajah.

“Aku ingin kamu ceritakan semuanya.”

“Dina…”

“Jangan panggil aku seperti itu kalau setelah ini kamu masih mau berbohong.”

Ia terdiam.

Aku duduk di kursi seberangnya.

Jarak kami hanya beberapa meter.

Namun rasanya seperti ada jurang yang sangat dalam di antara kami.

“Arga benar-benar anak kita.”

Raka mengangguk.

Aku menelan ludah.

“Dia lahir tujuh tahun lalu?”

“Iya.”

“Dia tinggal bersama kita?”

“Iya.”

“Di rumah ini?”

Raka diam sebentar.

“Waktu itu kita memang tinggal di rumah ini.”

Aku memejamkan mata.

Jadi semua yang kulihat bukan sekadar bayangan.

Aku pernah tinggal di sini bersama Arga.

Aku pernah menjadi ibu dari tiga anak.

Aku membuka mata lagi.

“Kenapa aku tidak ingat?”

Raka menghela napas.

“Karena setelah kejadian itu…”

Ia berhenti.

“Setelah apa?”

“Kecelakaan.”

Kata itu terdengar begitu sederhana.

Terlalu sederhana untuk sesuatu yang telah menghancurkan ingatanku.

“Apa yang terjadi?”

Raka menatap lantai.

“Arga jatuh dari tangga.”

Aku merasakan tubuhku menegang.

“Seperti yang aku ingat?”

“Iya.”

“Aku ada di sana?”

Raka mengangguk.

Aku menutup mata.

Potongan gambar kembali muncul.

Tangga.

Teriakan.

Alya.

Arga.

Aku membuka mata.

“Alya juga ada?”

Raka tidak langsung menjawab.

Aku langsung tahu.

“Alya ada di sana.”

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Raka mengusap wajah.

“Dina, waktu itu Alya masih kecil.”

“Aku tahu.”

“Dia belum mengerti banyak hal.”

“Raka…”

“Aku cuma mau kamu tahu itu.”

Aku merasa kesal.

“Jangan lindungi dia dulu. Ceritakan apa yang terjadi.”

Raka menarik napas.

“Arga dan Alya sedang bermain.”

Aku diam.

“Mereka memang sering bermain bersama.”

“Lalu?”

“Mereka bertengkar.”

Aku menatapnya.

“Karena apa?”

Raka menggeleng.

“Aku tidak tahu persis.”

“Kamu ada di sana.”

“Aku datang setelahnya.”

Aku mengerutkan kening.

“Jadi kamu tidak melihat awalnya?”

“Tidak.”

“Lalu kamu melihat apa?”

Raka menutup mata.

Aku menunggu.

“Aku mendengar suara.”

“Suara apa?”

“Suara benda jatuh.”

Dadaku terasa berat.

“Ketika aku keluar…”

Raka berhenti.

Aku bisa melihat tangannya mulai gemetar.

“Arga sudah berada di bawah tangga.”

Aku menutup mulut.

“Dia masih hidup?”

Raka mengangguk.

“Waktu itu iya.”

Aku merasakan air mata mulai mengalir.

“Dia masih hidup?”

“Iya.”

“Lalu kenapa…”

Suaraku pecah.

“Kenapa dia meninggal?”

Raka tidak langsung menjawab.

Aku bangkit.

“Kenapa?”

“Karena lukanya parah.”

Aku memandangnya.

“Rumah sakit?”

“Iya.”

“Dia dibawa ke rumah sakit?”

Raka mengangguk.

“Dokter berusaha menyelamatkannya.”

Aku menatap kosong ke depan.

Ada sesuatu di dalam diriku yang seperti berteriak.

Sebuah suara.

Suara seorang ibu.

Suara seseorang yang pernah kehilangan anak.

Lihat selengkapnya