Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #26

Tragedi

Aku tidak tahu apakah aku sedang bermimpi.

Atau mengingat.

Yang kutahu, ketika Raka mengatakan bahwa Arga jatuh dari tangga, sesuatu di dalam kepalaku seperti terbuka.

Bukan perlahan.

Melainkan sekaligus.

Aku memejamkan mata.

Dan tiba-tiba—

aku kembali ke malam itu.

Rumah ini berbeda.

Lebih ramai.

Lebih hangat.

Aku bisa mendengar suara televisi dari ruang tengah.

Ada suara langkah kaki kecil berlari di lantai atas.

Kemudian tawa.

Aku berdiri di dapur.

Tanganku sedang memotong buah.

Aku masih ingat perasaan itu.

Lelah.

Tapi bahagia.

Aku tersenyum ketika mendengar suara anak-anak.

“Alya, jangan lari!”

Suara itu keluar dari mulutku.

Kemudian terdengar tawa.

“Aku nggak lari, Mama!”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

Arga.

Aku tahu sekarang.

Itu suara Arga.

Anakku.

Anak ketigaku.

Aku meletakkan pisau.

Aku hendak naik ke lantai atas.

Tetapi ponselku berbunyi.

Aku berhenti.

Pesan masuk.

Aku membacanya.

Hanya beberapa detik.

Hanya beberapa detik aku tidak memperhatikan anak-anak.

Dan itulah yang selama ini membuatku menyalahkan diriku sendiri.

Aku lengah.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di atas.

Sampai aku mendengar suara Alya.

“Balikin!”

Aku langsung menoleh.

“Alya?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian suara Arga.

“Ini punya aku!”

Aku mulai berjalan menuju tangga.

“Alya, Arga, jangan bertengkar!”

Aku baru mencapai anak tangga pertama ketika mendengar suara langkah kaki.

Cepat.

Sangat cepat.

Aku mengangkat kepala.

Arga berdiri di lantai atas.

Tangannya menggenggam sesuatu.

Alya berada beberapa langkah di belakangnya.

“Arga, balikin!”

“Enggak!”

Aku mengerutkan kening.

“Apa yang kalian lakukan?”

Arga menatapku.

“Mama!”

Aku naik beberapa anak tangga.

“Ayo turun. Jangan lari.”

Arga menggeleng.

Alya terus mendekatinya.

“Arga, kasih sini!”

“Enggak!”

“Alya, jangan!”

Aku mempercepat langkah.

Kemudian semuanya terjadi begitu cepat.

Alya mengulurkan tangan.

Arga mundur.

Kakinya menginjak ujung anak tangga.

Aku melihat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Arga!”

Tanganku terulur.

Tapi aku terlambat.

Tubuh kecil itu jatuh.

Satu anak tangga.

Kemudian dua.

Kemudian—

Brak!

Aku menjerit.

“ARGA!”

Aku berlari.

Arga tergeletak di bawah tangga.

Tidak bergerak.

Aku langsung berlutut di sampingnya.

“Arga?”

Tidak ada jawaban.

“Arga!”

Aku mengangkat kepalanya perlahan.

Ada darah.

Tanganku gemetar.

“Sayang…”

Aku menepuk pipinya.

“Arga, bangun.”

Alya berdiri di tangga.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya gemetar.

Ia menatap Arga.

Kemudian menatapku.

“Mama…”

Aku menoleh.

“Alya…”

Ia menangis.

“Aku nggak sengaja.”

Aku ingin menjawab.

Tetapi aku tidak mampu.

Aku hanya memeluk Arga.

“Arga…”

Aku mendengar pintu depan terbuka.

Raka pulang.

“Ada apa?”

Aku berteriak.

“Raka!”

Lihat selengkapnya