Aku masih berdiri di depan tangga ketika Raka mengatakan bahwa semuanya berawal dari keputusannya.
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
Atau mungkin aku sebenarnya sudah memahami, tetapi belum siap mengakuinya.
“Kamu melakukan terapi itu setelah Arga meninggal?”
Raka mengangguk.
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Raka tidak menjawab.
“Jawab.”
Ia menarik napas panjang.
“Karena aku nggak tahu harus melakukan apa lagi.”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Jadi kamu memilih menghapus anakku dari kepalaku?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Raka berdiri.
“Waktu itu kamu hancur, Dina.”
“Aku kehilangan anak.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak tahu.”
Suaraku bergetar.
“Kamu bisa mengingat Arga. Aku tidak.”
Raka menunduk.
“Kamu tidak makan.”
Aku diam.
“Kamu tidak tidur.”
Ia melanjutkan.
“Setiap malam kamu berjalan ke kamar Arga.”
Aku menahan napas.
“Kamu membuka pintunya.”
Aku melihat ke arah lorong.
“Lalu kamu duduk di sana sampai pagi.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Kadang kamu bicara dengannya.”
Aku menatap Raka.
“Aku bicara dengan Arga?”
“Iya.”
“Seperti sekarang?”
Raka mengangguk.
Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tubuhku.
“Terus?”
“Kamu mulai kehilangan kendali.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu pernah membawa Bima ke kamar Arga dan mengatakan dia sedang bermain dengan kakaknya.”
Aku terdiam.
Bima.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Bima pernah mengatakan hal yang sama.
Kak Arga.
Berarti bukan baru sekarang.
Mungkin sejak awal.
Aku memejamkan mata.
“Terus apa yang kamu lakukan?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Aku mencari bantuan.”
“Dokter?”
“Iya.”
“Psikolog?”
Raka menggeleng.
“Lebih dari itu.”
Aku menatapnya.
“Terapi eksperimental?”
Ia mengangguk.
Dadaku terasa sesak.
“Dan kamu setuju?”
“Awalnya tidak.”
“Tapi akhirnya iya.”
Raka diam.
Aku menggeleng.
“Kamu tetap melakukannya.”
“Iya.”
“Tanpa aku tahu?”
“Kamu tidak dalam kondisi untuk mengambil keputusan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu memutuskan untukku?”
“Aku ingin menyelamatkanmu.”
“Kamu menyelamatkan aku dengan membuatku lupa bahwa aku seorang ibu?”
Raka menunduk.
Aku berjalan menjauh.
Aku tidak ingin melihat wajahnya.
Aku merasa marah.
Tetapi di balik kemarahan itu ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Aku mulai memahami alasannya.
Bukan berarti aku memaafkannya.
Tetapi aku mengerti.
Ia melihat istrinya hancur.
Ia melihat Alya yang masih kecil.
Ia melihat Bima.
Dan ia takut seluruh keluarga kami ikut tenggelam.
Aku duduk di sofa.
“Bagaimana terapinya?”