Aku masih berdiri di depan tangga.
Empat angka itu masih ada di dinding.
1 — 2 — 3 — 4
Aku tidak tahu siapa yang menulisnya.
Aku juga tidak tahu apa artinya.
Tetapi melihatnya membuat satu perasaan aneh muncul di dalam diriku.
Aku pernah melihatnya.
Bukan di rumah ini.
Bukan dalam ingatan yang baru saja kembali.
Di tempat lain.
Di waktu lain.
Aku menatap angka-angka itu lebih lama.
Kemudian sesuatu di kepalaku berdenyut.
Sakit.
Aku memejamkan mata.
Dan sebuah gambar muncul.
Aku berdiri di depan tangga.
Sama seperti sekarang.
Tetapi rumahnya berbeda.
Aku memakai baju yang berbeda.
Raka berdiri di belakangku.
Alya masih kecil.
Bima belum ada.
Dan di tangga—
Arga.
Aku membuka mata dengan napas tersengal.
“Tidak…”
Raka langsung menghampiriku.
“Dina?”
Aku mundur.
“Kamu pernah melihat ini.”
Ia menatap dinding.
“Apa?”
“Angka itu.”
Raka tidak menjawab.
“Kamu pernah melihatnya, kan?”
Ia menggeleng.
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak tahu.”
Aku menatapnya.
Kemudian aku bertanya,
“Berapa umur Bima waktu pertama kali melihat Arga?”
Raka terdiam.
Aku langsung tahu ada yang aneh.
“Jawab.”
“Empat tahun.”
Aku mengerutkan kening.
“Bima sekarang enam tahun.”
“Iya.”
“Berarti dua tahun lalu dia sudah pernah melihat Arga?”
Raka mengangguk pelan.
“Dan waktu itu…”
Aku menelan ludah.
“…aku juga melihatnya?”
Raka tidak menjawab.
Aku merasakan jantungku berdegup semakin cepat.
“Pernah terjadi sebelumnya.”
Raka memejamkan mata.
Aku mendekatinya.
“Benar?”
“Dina…”
“Benar atau tidak?”
Ia akhirnya mengangguk.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Berapa kali?”
Raka tidak menjawab.
Aku berteriak,
“Berapa kali?!”
Raka tersentak.
“Empat.”
Aku terdiam.
“Empat kali?”
Ia mengangguk.
Aku menatap angka di dinding.
1 — 2 — 3 — 4.
Jadi itu maksudnya.
Bukan urutan anak tangga.
Bukan tanggal.
Bukan nomor kamar.
Empat kali.
Aku menatap Raka.
“Kita sudah mengulang semuanya empat kali?”
“Kurang lebih.”
“Kurang lebih?”
Aku tertawa tidak percaya.
“Bagaimana mungkin?”
Raka mengusap wajahnya.
“Setiap kali ingatanmu kembali…”
“Terapi.”
“Iya.”
“Setiap kali Arga muncul…”
“Semua mulai berantakan.”
Aku menggeleng.
“Lalu kamu mengulangnya lagi.”
Raka diam.
Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kematian Arga.
Kami tidak hanya kehilangan Arga sekali.
Kami kehilangan dia berkali-kali.
Dan setiap kali aku mengingatnya—
Raka membuatku melupakan lagi.
Aku berjalan menuju dinding.
Tanganku menyentuh angka pertama.