Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #29

Arga yang Terjebak

Aku masih berdiri di depan pintu ruang kerja.

Suara Arga sudah tidak terdengar.

Namun anehnya, keheningan setelah suara itu justru terasa lebih menakutkan.

Aku menatap lorong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi aku tahu dia ada.

Bukan karena aku melihatnya.

Bukan karena aku mendengarnya.

Aku hanya… tahu.

Seperti seorang ibu yang tahu anaknya sedang berdiri di ruangan sebelah.

Aku menoleh kepada Raka.

“Dia masih di sini.”

Raka tidak menjawab.

“Arga.”

Wajah Raka menegang.

“Aku tahu dia masih di sini.”

“Dina…”

“Jangan.”

Aku mengangkat tangan.

“Kali ini jangan bilang aku cuma membayangkan.”

Raka terdiam.

Aku berjalan perlahan menuju tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Aku berhenti di anak tangga pertama.

“Arga?”

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu.

Kemudian terdengar suara kecil dari lantai atas.

“Mama.”

Aku memejamkan mata.

Air mata langsung mengalir.

“Aku di sini.”

“Jangan naik.”

Aku membuka mata.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menaiki satu anak tangga.

“Arga?”

Suara itu kembali terdengar.

“Jangan naik, Mama.”

Aku berhenti.

“Kenapa?”

Kali ini jawabannya sangat pelan.

“Karena aku takut.”

Dadaku terasa sesak.

Aku tidak pernah membayangkan Arga akan mengatakan itu.

Selama ini aku menganggap dialah yang menakutkan.

Tetapi ternyata—

dia juga takut.

“Takut apa?”

Hening.

Kemudian:

“Lupa.”

Aku menahan napas.

“Takut dilupakan?”

“Iya.”

Aku duduk di anak tangga.

“Maaf.”

Tidak ada jawaban.

“Aku sudah lupa kamu terlalu lama.”

Suara Arga terdengar lagi.

“Bukan cuma Mama.”

Aku mengerutkan kening.

“Siapa lagi?”

“Papa.”

Aku menoleh kepada Raka.

Wajahnya pucat.

“Papa juga pernah lupa.”

Raka memejamkan mata.

Aku menatapnya.

“Benarkah?”

Ia mengangguk pelan.

“Kadang.”

Aku tidak mengerti.

“Bagaimana bisa?”

“Setiap siklus…”

Raka berhenti.

“…ingatan kami berubah.”

Aku menatap tangga.

“Termasuk Arga?”

Raka mengangguk.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Jadi setiap kali kami di-reset…”

Aku berhenti.

“…Arga juga berubah?”

Raka tidak menjawab.

Suara Arga terdengar lagi.

“Awalnya aku cuma ingin Mama ingat.”

Aku menutup mata.

“Lalu?”

“Lama-lama aku takut Mama lupa lagi.”

“Jadi kamu mulai muncul?”

“Iya.”

“Di cermin?”

“Iya.”

“Di lorong?”

“Iya.”

“Di kamar Bima?”

“Iya.”

Aku menarik napas.

“Karena kamu ingin aku mengingatmu?”

“Iya.”

Aku tersenyum sedih.

“Kenapa kamu tidak datang langsung?”

Hening.

Kemudian:

“Karena aku tidak bisa.”

Lihat selengkapnya