Absence

Arialdi Kaspari
Chapter #30

Kehancuran

Aku masih menatap Arga.

Ia berdiri di ujung lorong.

Wajahnya terlihat begitu nyata sampai aku hampir lupa bahwa anak itu seharusnya sudah tidak ada.

Raka berdiri di belakangku.

Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Aku ingin mendekati Arga.

Namun sebelum sempat melangkah, terdengar suara keras dari lantai atas.

Brak!

Aku dan Raka sama-sama menoleh.

“Apa itu?”

Raka langsung berjalan menuju tangga.

Aku mengikutinya.

Kami baru menaiki beberapa anak tangga ketika terdengar suara lain.

Kali ini dari ruang tengah.

Suara benda pecah.

Aku menoleh.

Ruang tengah—

berubah.

Aku membeku.

Sofa yang tadi berada di dekat jendela sekarang berada di tengah ruangan.

Meja makan menghilang.

Dinding yang biasanya berwarna putih berubah menjadi warna krem tua.

Dan di atas meja yang entah dari mana asalnya—

ada sebuah vas bunga yang sangat kukenal.

Aku pernah melihat vas itu.

Bertahun-tahun lalu.

Di rumah lama kami.

“Raka…”

Ia berhenti.

“Apa?”

“Lihat.”

Ia menatap ruang tengah.

Wajahnya langsung pucat.

“Kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Keluar.”

Kami turun.

Aku berjalan ke pintu depan.

Raka membuka gagang pintu.

Pintu terbuka.

Namun bukan halaman rumah yang terlihat.

Aku melihat ruang tengah.

Ruangan yang sama.

Sofa.

Meja.

Tangga.

Dan kami berdua berdiri di depan pintu.

Aku menatap pemandangan itu dengan napas tercekat.

“Tidak…”

Raka menutup pintu dengan cepat.

Aku mundur.

“Apa yang terjadi?”

“Jangan buka lagi.”

“Kita di mana?”

“Di rumah.”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Rumah yang mana?”

Raka tidak menjawab.

Aku membuka pintu lagi.

Kali ini yang terlihat adalah dapur.

Dapur yang pernah kami miliki tujuh tahun lalu.

Aku bisa melihat diriku sendiri berdiri di sana.

Memotong buah.

Mendengar suara anak-anak bermain di lantai atas.

Aku mundur.

“Itu…”

Raka menutup pintu.

“Jangan lihat.”

“Tadi aku melihat diriku.”

“Dina…”

“Dan Arga masih hidup.”

Raka memejamkan mata.

Aku menatapnya.

“Rumah ini menunjukkan masa lalu.”

Ia tidak menjawab.

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Bukan cuma menunjukkan.”

Aku menatap sekeliling.

“Rumah ini sedang mencampurkan semuanya.”

Aku mendengar suara langkah kaki.

Aku menoleh.

Bima berdiri di ujung lorong.

“Bun?”

Aku langsung menghampirinya.

“Bima.”

Ia memelukku.

“Kenapa rumahnya berubah?”

Aku memeluknya erat.

“Kamu lihat apa?”

Bima menunjuk ke belakang.

“Ada kamar Kak Arga.”

Aku menoleh.

Di sana memang ada sebuah pintu.

Pintu yang selama ini tidak pernah ada.

Aku berjalan mendekatinya.

Tanganku menyentuh gagang.

Aku membukanya.

Di dalam—

kamar Arga.

Persis seperti yang ada dalam ingatanku.

Tempat tidur kecil.

Mobil-mobilan.

Buku.

Gambar-gambar di dinding.

Aku berdiri di ambang pintu.

Lihat selengkapnya