Aku masih berdiri di ruang tengah.
Jam dinding berhenti di angka 02.17.
Tidak bergerak.
Tidak berdetak.
Bahkan jarum detiknya seperti membeku.
Aku menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Bima masih menggenggam tanganku.
“Bun…”
“Iya?”
“Rumahnya kenapa?”
Aku ingin menjawab.
Aku ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Seperti yang selalu kulakukan.
Namun kali ini aku tidak sanggup berbohong.
“Aku nggak tahu.”
Bima menatapku.
“Papa tahu?”
Aku menoleh kepada Raka.
Ia berdiri beberapa meter di depan kami.
Wajahnya pucat.
“Raka.”
Ia tidak menjawab.
“Kamu tahu?”
Raka menggeleng.
“Atau kamu pura-pura tidak tahu?”
“Dina…”
“Aku sudah cukup dibohongi.”
Raka menunduk.
Aku menarik napas.
“Sekarang aku harus memilih.”
Ia menatapku.
“Memilih apa?”
Aku menunjuk kepalaku.
“Melupakan semuanya.”
Kemudian aku menunjuk rumah.
“Atau mengingat semuanya.”
Raka langsung mendekat.
“Dina, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Ia menggeleng.
“Kalau semua ingatan itu kembali, kamu bisa kehilangan dirimu sendiri.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau aku melupakan?”
Raka diam.
“Berapa kali kita sudah melakukan itu?”
Tidak ada jawaban.
“Empat?”
Ia menunduk.
“Lebih.”
Aku merasa dada seperti dihantam.
“Lebih dari empat kali?”
“Iya.”
Aku memejamkan mata.
Berarti angka di dinding bukan jumlah keseluruhan.
Mungkin hanya empat siklus terakhir.
Mungkin ada lebih banyak kehidupan yang bahkan tidak bisa kubayangkan.
Aku membuka mata.
“Aku tidak mau melupakan lagi.”
Raka langsung berkata,
“Dina.”
“Aku mau tahu semuanya.”
“Kamu akan terluka.”
“Aku sudah terluka.”
Aku menatapnya.
“Bedanya, sekarang aku mau tahu kenapa.”
Raka terdiam.
Kemudian aku berjalan menuju ruang kerja.
Bima mengikuti.
“Bun, mau ke mana?”
“Mencari sesuatu.”
“Apa?”
Aku berhenti.
Aku tidak tahu jawabannya.
Tetapi entah kenapa aku merasa harus mencari sesuatu di sana.
Sesuatu yang pernah kutinggalkan.
Sesuatu yang pernah dibuat oleh diriku sendiri.
Pintu ruang kerja terbuka.
Ruangan itu gelap.
Aku menyalakan lampu.
Kali ini lampunya menyala normal.
Aku mulai membuka laci satu per satu.
Dokumen.
Buku.
Kertas-kertas lama.
Tidak ada.
Aku membuka lemari kecil.
Kosong.
Aku membuka laci paling bawah.
Sebuah benda jatuh ke lantai.
Kamera video lama.
Aku membeku.
Bima memungutnya.
“Ini punya Bunda?”
Aku mengambilnya.
Tanganku langsung gemetar.
Aku mengenal benda ini.
Aku tidak tahu dari mana.
Tetapi aku mengenalnya.
“Raka!”
Ia muncul di ambang pintu.
Begitu melihat kamera itu, wajahnya berubah.
Aku langsung tahu.
“Kamu tahu benda ini.”
Raka tidak menjawab.
“Raka.”
“Dina…”
“Kamu tahu.”
Ia mengangguk pelan.
Aku menyalakan kamera.
Baterainya ternyata masih menyala.
Layar kecilnya berkedip.
Ada satu folder.
Tanpa nama.
Hanya angka.
04.
Aku menatapnya.
“Kenapa empat?”
Raka tidak menjawab.
Aku membukanya.
Ada satu video.
Tanggalnya tidak terbaca.
Aku menekan tombol putar.
Layar kecil itu menampilkan sebuah ruangan.
Aku mengenalinya.
Ruang kerja ini.
Tetapi terlihat berbeda.
Lebih berantakan.
Dan kemudian—
aku muncul di layar.
Aku sendiri.