Aku masih memegang kamera itu. Layar kecilnya sudah mati. Tetapi kalimat terakhir dari rekaman tadi terus berputar di kepalaku. Jangan percaya bahwa kamu sedang membaca masa lalu.
Aku menatap layar hitam. Karena aku sedang merekam ini untuk Dina yang akan datang setelah aku. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri seperti itu. Bima masih berada di sampingku. Raka masih di ambang pintu. Tidak ada yang berbicara. Kemudian aku bertanya,
“Berapa kali?”
Raka menatapku.
“Apa?”
“Berapa kali aku sudah melakukan ini?”
Ia tidak menjawab.
“Berapa kali aku sudah mengingat Arga?”
Hening.
“Berapa kali aku sudah melupakannya?”
Raka menunduk.
Aku mengerti. Tidak ada angka yang bisa menjelaskan semuanya. Karena mungkin kami sudah melakukannya terlalu banyak. Mungkin bahkan tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai awal.
Aku duduk.
“Aku kira masalahnya adalah Arga.”
Raka menatapku.
“Ternyata bukan.”
Aku melihat kamera di tanganku.
“Masalahnya adalah kita.”
Raka tidak menyangkal.
“Kita terus mencoba mengubah sesuatu yang sudah terjadi.”
Aku menarik napas.
“Setiap kali aku mengingat, aku ingin memperbaiki kematian Arga.”
Raka menunduk.
“Setiap kali aku tidak sanggup, kamu membuatku lupa.”
Aku menatapnya.
“Lalu semuanya dimulai lagi.”
Raka mengangguk. Aku memejamkan mata. Tiba-tiba aku teringat semua yang sudah kulihat.
Tangga.
Arga.
Alya.
Darah.
Rumah sakit.
Terapi.
Kamar Arga.
Bima berbicara dengan seseorang yang tidak bisa kulihat.
Raka berdiri di sampingku.
Kemudian rumah yang berubah.
Waktu yang berhenti.
Rekaman-rekaman.
Diriku sendiri.
Dan kematian.
Berkali-kali.
Aku membuka mata.
“Aku mengerti sekarang.”
Raka mendekat.
“Apa?”
“Kenapa kita tidak pernah berhasil.”
Ia menatapku.
“Karena kita selalu mencari pilihan yang paling mudah.”
Aku menatapnya.
“Melupakan Arga membuat kita bisa hidup.”
Raka diam.
“Dan mengingat Arga membuat kita tidak sanggup hidup.”
Air mataku jatuh.
“Jadi setiap kali kita memilih salah satunya, siklus selalu punya alasan untuk dimulai lagi.”
Aku melihat ke arah lorong.
“Kalau aku melupakan, Arga kembali.”
Kemudian aku menyentuh dadaku.
“Kalau aku mengingat, aku hancur.”
Raka berkata pelan,
“Jadi apa yang harus kita lakukan?”
Aku tidak menjawab. Karena untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mungkin memang tidak ada pilihan yang benar. Tidak ada tombol untuk kembali. Tidak ada cara untuk menghidupkan Arga. Tidak ada terapi yang bisa menghapus rasa kehilangan. Dan tidak ada ingatan yang bisa membuat waktu kembali seperti semula.
Aku berdiri.
“Aku tidak akan memilih.”
Raka mengerutkan kening.
“Dina?”
“Aku tidak akan melupakan Arga.”
Aku menatap lorong.
“Tapi aku juga tidak akan mencoba mengubah kematiannya.”