Di sudut kota yang ramai, matahari senja menebarkan cahaya hangatnya. Sinar keemasan menyapu jalanan dan bangunan, memantul di kaca etalase, menyusup di sela dedaunan yang bergoyang pelan tertiup angin sore.
Jalanan dipenuhi hiruk-pikuk. Deru motor, klakson mobil, langkah tergesa pejalan kaki, hingga pedagang yang sibuk melayani pembeli. Dunia tampak berjalan seperti biasa, seolah semua sedang berada dalam ritme normal.
Di antara keramaian itu, seorang pemuda berjalan santai. Wajahnya teduh, dihiasi kacamata dengan kumis dan janggut tipis. Senyum kecil dia tebarkan pada siapa pun yang berpapasan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket parka coklat. Celana chino hitam dan sepatu putih yang sudah lusuh menambah kesan sederhana namun berkarakter.
Dia berhenti sejenak, merogoh ranselnya, lalu menyalakan sebatang rokok. Langkahnya kembali terayun, lebih santai, lebih rileks. Tatapannya lurus ke depan, sesekali mendongak menatap langit senja. Awan berlapis merah dan jingga membentuk lukisan megah. Layung sore itu begitu menawan. Namun beberapa detik kemudian, sesuatu terasa janggal. Seperti ada yang tidak beres.
Asap rokok yang dia hembuskan berputar lambat di depan wajahnya. Angin mendadak hilang. Rokok di tangannya berhenti mengeluarkan asap, tapi bara merahnya justru semakin menyala.
Jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh ke sekitar dan terperanjat. Orang-orang, kendaraan, semuanya bergerak amat pelan, nyaris seperti dalam rekaman slow motion.
Keringat dingin mengalir di dahinya. Kelopak matanya berat. Nafasnya tersengal. Tubuhnya kaku. Dan tiba-tiba. Gelap.
Tak ada cahaya. Tak ada suara. Gelapnya bahkan lebih pekat daripada memejamkan mata. Namun dia masih sadar.
Dia mencoba menajamkan pandangan, tapi yang tampak hanyalah kehampaan. Tak ada manusia. Tak ada kendaraan. Tak ada gedung. Semua lenyap. Ruang hampa yang sulit membedakan arah.
Yang terdengar hanya suara napasnya sendiri, bergema, memantul. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya seolah terkunci. Hanya pikirannya yang masih bisa bersuara.
“Di mana ini? Apakah aku sudah mati?” gumamnya dalam batin.