ADA

Rian Nugraha
Chapter #3

Secangkir Kopi

Siang itu, matahari menyinari lembut sebuah perkampungan yang asri. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan bambu yang berderik samar, seolah ikut menyanyikan lagu alam.

Di kejauhan, sawah menghampar hijau. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dengan desir air sungai kecil yang mengalir di tepi jalan tanah. Di balik ketenangan itu, tersimpan aura misteri yang tak terlihat.

“Ternyata hanya mimpi. Kegelapan itu hanya mimpi,” kata pemuda itu yang sebelumnya terjebak dalam ruang hampa.

Dia terus berjalan menyusuri kampung itu. Sesekali dia menengadah ke atas pohon, merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah pertanyaan muncul membuatnya bingung.

“Tunggu... Kenapa aku tiba-tiba ada di sini?” gumamnya penuh keheranan.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangan, mengajak pemuda itu untuk singgah.

Tanpa rasa curiga sedikit pun, dia berjalan perlahan menghampiri lelaki tua berkaos putih itu. Wajahnya ramah, tutur kata dan perilakunya sopan. Tampak seperti orang baik.

Di dalam rumah kayu sederhana yang berlumut di beberapa sisinya, lelaki tua itu duduk di kursi rotan tua. Sorot matanya teduh, seolah menyimpan ribuan cerita yang tak semua orang berani dengar. Tatapannya mengarah pada pemuda itu yang kini menjadi tamunya, dengan raut wajah penuh tanda tanya.

Dia duduk sambil menatap tamunya dengan lembut, lalu menunjuk kursi di hadapannya.

“Duduklah di sini. Jangan sungkan. Anggap saja semua ini bagian dari perjalanan hidupmu,” ujarnya tenang.

Pemuda itu menurut. Lelaki tua itu menuangkan secangkir kopi, lalu mendorongnya ke arah tamunya.

“Minumlah. Nikmati hangatnya. Sambil itu, dengarkanlah. Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kosongkan pikiranmu sejenak, lupakan yang kau alami sebelumnya, karena kita akan menyelami sesuatu yang lebih dalam.”

Lelaki tua itu lalu bertanya, seakan menembus hati, “Pernahkah kau berpikir, Tuhan itu ada? Pernahkah kau bertanya di mana Dia berada? Tak mengapa, bertanyalah sesukamu. Tuhan tahu apa yang kau rasakan.”

Setelah jeda sejenak, lelaki tua itu melanjutkan dengan suara yang lebih berat, “Pernahkah kau membayangkan, jika suatu hari bertemu Tuhan, renungkanlah.”

Pemuda itu terdiam. Keheranan mendengar lelaki tua itu tiba-tiba bertanya sesuatu yang tak biasa.

Lihat selengkapnya