Pemuda itu terus menatap setitik cahaya jauh di atasnya. Tatapannya kosong, namun tajam, seakan berusaha menembus misteri yang tersembunyi di baliknya. Di dalam kepalanya, tak ada jalan pulang, tak ada arah untuk lari. Semua telah gelap. Semua telah hampa.
Cahaya itu tiba-tiba berdenyut, perlahan lalu semakin cepat, seolah-olah bernafas. Dari titik mungil itu, cahaya mulai memudar, meluas, membentuk lingkaran tipis berwarna emas, seperti cincin surgawi yang menggantung di kegelapan.
Lingkaran itu membesar, berubah menjadi pusaran yang menakutkan. Sebuah lubang hitam lahir dari kehampaan. Dia menelan cahaya, menelan waktu, menelan ruang. Lingkarannya berputar cepat, mengitari inti hitam yang tak berdasar, seolah jurang yang siap menelan segalanya.
Pemuda itu terseret. Tubuhnya pelan-pelan bergerak tanpa kendali. Kaki-kakinya seakan terikat oleh gravitasi yang tak terlihat, menyeretnya menuju tepi pusaran. Nafasnya tercekat. Matanya bergetar. Dia mencoba melawan, namun tubuhnya seperti boneka tak bernyawa.
Sunyi. Hanya detak jantungnya yang menggaung di telinganya, semakin keras, semakin liar. Ruang di sekitarnya hampa, menakutkan, seperti pintu rahasia menuju kegelapan tanpa ujung.
Saat tubuhnya semakin dekat, matanya yang biru berkilat sekali terakhir kali, sebuah percikan harapan yang hampir padam. Namun, perlahan, sinar itu meredup. Cahaya biru itu mati. Wajahnya hilang ditelan pekatnya kegelapan, lenyap seolah dia tak pernah ada.
***
Pemuda itu membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, namun dia melihat pemandangan bukit-bukit yang menjulang berjejer rapi di hadapannya. Sesaat dia terpana.
“Di mana ini? Bau apa ini?” bisiknya lirih, suaranya bergetar.
Dia mengangkat tubuhnya yang lemah, tapi tubuh itu membeku ketika kenyataan merayap jelas ke dalam pikirannya. Bukit-bukit itu bukanlah perbukitan hijau. Melainkan tumpukan sampah, menjulang tinggi, menggunung bagai nisan raksasa dunia yang busuk. Dirinya berada di puncaknya.
Kaos lusuh penuh sobekan melekat di tubuhnya. Tangannya menggenggam tongkat kayu patah. Dari bibirnya keluar kalimat yang nyaris tak terdengar.
“Aku… seorang pemulung?”
Dia menatap kosong, berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini mimpi buruk. Namun bau busuk menusuk hidungnya, suara lalat berkerumun di sekitarnya. Semuanya terlalu nyata.
Di kejauhan, suara teriakan memecah udara. Dia menoleh. Beberapa pria lain, sama lusuhnya, saling bertengkar dengan suara kasar.
“Sudahlah,” ucap salah satunya datar, dingin. “Orang miskin seperti kita tidak berhak mendapatkan keadilan.”
Kalimat itu bagai pisau. Bukan menenangkan, justru menyayat lebih dalam.
“Dunia ini memang tak adil! Hidupku sengsara sejak lahir!” seru yang lain, matanya penuh amarah bercampur tangis.