ADA

Rian Nugraha
Chapter #5

Nilai Kosong

Dalam ruang hampa tanpa batas, kegelapan merayap seperti selimut abadi. Pemuda itu melayang tak berdaya, tatapannya kosong menembus kehampaan. Bayangan insiden tragis yang baru menimpanya terus menghantui, mengguratkan luka yang tak kasat mata.

Di balik sorot matanya, cahaya biru berpendar, lebih terang dari sebelumnya. Begitu menyilaukan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa dia masih ada di antara ketiadaan.

Di atas sana, sebuah cahaya lain berpendar. Terang benderang, mirip matahari, namun terasa jauh dan dingin. Sinarnya tak mampu menembus gelap pekat di ruang hampa itu.

“Aku mati lagi... tubuhku hancur.” bisiknya lirih, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Pandangan pemuda itu jatuh ke bawah. Dari kegelapan, perlahan muncul sebuah titik cahaya. Kecil, samar, namun semakin jelas.

“Cahaya itu... apa yang akan terjadi selanjutnya?” gumamnya, setengah takut, setengah penasaran.

Titik cahaya itu mendadak melebar, meledak menjadi pusaran raksasa. Sebuah lubang hitam terbuka, menganga liar. Tubuhnya bergetar, bulu kuduknya berdiri, seakan alam semesta sendiri tengah menjerit.

Dalam sekejap, gaya hisapnya menarik tubuh sang pemuda. Dia terhempas masuk tanpa mampu melawan, terseret ke dalam kegelapan mutlak. Hanya satu hal yang tetap tak padam. Sinar biru di matanya, yang terus menyala.

***

Pemuda itu tersentak bangun. Pandangannya buram, tapi samar-samar dia melihat dinding kusam yang lapuk dimakan usia.

Suara langkah berat berderap mengitari ruang sempit itu. Puluhan pria berwajah keras berdiri membentuk lingkaran. Tatapan mereka dingin. Menekan. Menyeramkan.

“Nilai hanyalah nilai, tak pernah punya harga. Yang punya harga hanyalah uang.”

Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Bos Mafia. Sorot matanya tajam menusuk, tertuju pada pemuda yang kini terikat erat di kursi besi berkarat.

Lihat selengkapnya