ADA

Rian Nugraha
Chapter #7

Melampaui Batas

Di tengah kegelapan ruang hampa, pemuda itu hanya bisa menatap cahaya-cahaya yang mengelilinginya. Dia menunggu, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pikirannya melayang, terombang-ambing di antara kehampaan yang tak berujung. Titik-titik cahaya di sekitarnya berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang terus menagih sebuah pembalasan.

Dia memejamkan mata. Seketika, seluruh cahaya menghilang.

Keheningan itu digantikan oleh dengungan rendah yang samar. Mula-mula nyaris tak terdengar. Perlahan semakin nyaring hingga memenuhi seluruh ruang. Dengungan itu berubah menjadi suara yang terus mengulang kalimat yang sama.

“Tebuslah... Tebuslah...”

“Tebus?” gumam pemuda itu pelan. “Apa yang harus kutebus?”

“Kau telah melampaui batas sebagai manusia. Maka, tebuslah!”

Pemuda itu terdiam. Dia berusaha mengabaikan suara itu, tetapi kata-kata justru terdengar semakin jelas. Semakin tegas. Semakin keras. Terus bergema, menghantam pikirannya tanpa henti.

Perlahan, dia membuka mata. Napasnya mendadak tertahan. Matanya membelalak.

“Di mana ini?” bisiknya lirih sambil memandang ke sekeliling.

Tiba-tiba angin kencang menerpa tubuhnya. Rambut dan bajunya berkibar hebat diterjang hembusan yang tak diketahui asalnya.

Pemuda itu terpaku. Tak sepatah kata pun mampu keluar dari bibirnya ketika pandangannya jatuh pada sesuatu yang berdiri tepat di hadapannya.

Gunung-gunung batu raksasa menjulang kokoh hingga menembus langit. Puncaknya runcing dan tajam. Di bawahnya, hamparan bongkahan batu lancip membentuk lereng curam yang tampak mengerikan.

Pemuda itu kini tak lagi berada di ruang hampa. Entah bagaimana, dia telah berpindah ke puncak pegunungan batu dengan sangat halus.

“Aneh. Kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Perpindahannya berbeda. Biasanya aku dihisap lalu ditarik...”

Kalimatnya terputus. Dia menunduk perlahan, memandangi kedua kakinya. Napasnya seketika tercekat. Tubuhnya hanya bertumpu pada sebongkah batu yang lebarnya tak lebih besar dari telapak kakinya sendiri.

“Aku berada di puncak gunung....”

Napasnya memburu. Tubuhnya beberapa kali kehilangan keseimbangan, nyaris terjatuh ke jurang yang dipenuhi batu-batu tajam.

Perlahan dia mendongak. Langit di atas kepalanya membuat darahnya seakan membeku. Empat matahari menggantung bersamaan. Cahayanya menyilaukan. Panasnya begitu menyengat hingga kulitnya terasa seperti terbakar.

DUUUAAARRR!!!

Suara guntur menggelegar, mengguncang seluruh pegunungan. Tanah bergetar hebat.

Tubuh pemuda itu terpeleset. Dia terjatuh, beruntung kedua tangannya masih sempat mencengkeram puncak batu yang menjadi pijakannya.

“Manusia! Kau telah melampaui batas. Lampaui gunung-gunung batu ini jika kau mampu!”

Suara itu menggelegar dari segala arah. Getarannya begitu dahsyat hingga membuat bongkahan-bongkahan batu berjatuhan dari tebing.

Pemuda itu berusaha menarik tubuhnya kembali ke atas. Otot-otot lengannya menegang. Jari-jarinya mencengkeram batu sekuat tenaga sementara napasnya tertahan menahan beban tubuhnya sendiri.

“Kau tak mampu! Tak akan pernah mampu!” ejek suara itu, semakin keras.

“Ini tidak masuk akal!” teriak pemuda itu. “Bagaimana aku bisa melampaui gunung ini? Bahkan untuk berpijak saja aku sudah kesulitan!”

Lihat selengkapnya