Suara napas tergesa-gesa bergema di ruang hampa, berpantulan seperti denting besi yang tak pernah berhenti. Pemuda itu berdiri kaku, matanya liar menatap ke segala arah.
Cahaya biru di matanya menyapu ruang kosong itu. Tiba-tiba, titik-titik cahaya baru muncul di kejauhan—di timur, barat, selatan, dan utara.
“Empat cahaya?” gumamnya, dada naik turun, suaranya setengah tercekat oleh rasa heran dan cemas.
Bayangan dua kehidupan dan dua kematian sebelumnya berkelebat di benaknya. Sesuatu jelas telah berubah.
Dia menunduk. Cahaya yang sebelumnya menelannya kini berpendar lebih terang, seakan menyaingi cahaya di atas sana.
“Kehidupan apalagi yang akan aku jalani?” bisiknya. Suaranya bergetar, hampir pecah.
Tiba-tiba, ruang itu bergetar hebat. Bukan cahaya yang bergerak—melainkan tubuhnya sendiri. Dia sadar, empat cahaya itu menariknya sekaligus, seperti magnet raksasa yang tak mengenal jarak.
“Kenapa ini? Tubuhku ditarik. Ditekan!” serunya, napasnya patah-patah.
Sunyi. Hanya dengung rendah yang merambat di udara kosong itu. Lalu, dadanya terasa berat. Seolah ada kekuatan tak kasat mata menekan dari dalam. Telinganya bergetar, keseimbangannya terguncang.
Dia memejamkan mata. Gelap. Di balik kelopaknya, cahaya samar berpendar, menari seperti bintang-bintang kecil yang berloncatan liar.
“Kilat itu?” ucapnya parau, tubuhnya semakin kaku.
Otot-ototnya menegang, seperti dirantai oleh gaya asing yang dingin—menjerat tanpa tali.
Keempat cahaya itu semakin mendekat, semakin dekat. Hingga tubuhnya terasa dikompresi, dipaksa tunduk pada kekuatan buas yang menolak belas kasihan. Napasnya makin berat.
“Sangat menyakitkan…” erangnya, wajahnya meringis.
Dalam sekejap, keempat cahaya itu menempel di tubuhnya. Tekanannya begitu hebat, membuat kepalanya terdongak ke atas. Cahaya biru di matanya meredup perlahan… lalu padam.
“Sekarang, apalagi…” katanya lirih.
Kesadarannya perlahan tenggelam, ditelan oleh kegelapan yang tak berbatas.
Saat kegelapan itu akhirnya menelannya utuh, empat cahaya tak lagi menarik dari luar—melainkan membakar dari dalam. Menyatu menjadi satu api baru yang tak pernah dia kenali sebelumnya.
***