ADA

Rian Nugraha
Chapter #9

Pedang yang Tak Terputus

Terik matahari membakar padang gurun yang luas dan tandus. Angin berhembus kencang, membawa butiran pasir yang menari di udara—menyayat kulit seperti jarum halus.

Suara riuh terdengar di kejauhan. Teriakan, denting besi, derap kaki kuda. Pemuda itu terbangun, matanya menyipit menahan silau. Dengan kesadaran yang setengah kembali, dia memandangi tubuhnya sendiri. Baju putih longgar, kepala dibalut sorban putih.

Dia mencoba berdiri, tubuhnya masih limbung. Pandangannya terarah ke langit yang membara, lalu ke kejauhan. Ada sesuatu berkilau, seperti cahaya yang memantul dari kaca di bawah terik matahari.

“Apa itu? Sangat silau dan panjang,” gumamnya pelan.

Tangannya menyentuh pinggang. Dia tertegun. “Ini... pedang?”

Tiba-tiba, suara gemuruh dari belakang membuat jantungnya berdegup kencang. Derap kaki kuda semakin dekat. Dia menoleh—dan matanya membesar.

Ribuan prajurit berpakaian serupa dengannya berlari ke depan sambil menghunus pedang. Sorban putih mereka berkibar ditiup angin gurun.

Seorang pria gagah berteriak lantang dari atas kudanya.

“SERANG!!!”

Pemuda itu hanya terpaku. Napasnya berat. Dia menatap ke sekeliling—wajah-wajah penuh amarah dan semangat perang membanjiri pandangannya. Dia kebingungan, seolah baru terlempar ke dunia asing.

“Perang? Apakah aku kembali hidup di dunia perang?” bisiknya. “Kenapa tidak di ruang hampa seperti sebelumnya?”

“Angkat pedangmu, manusia!” Suara berat terdengar di sampingnya. Seorang prajurit tua mendekat dengan mata menyala penuh tekad. “Kita harus mempertahankan tanah ini!”

“Kenapa aku harus mengangkat pedang?” ucap pemuda itu, bingung dan gentar. “Itu bukan urusanku.”

“Aku tak peduli urusanmu!” bentak pria itu. “Angkat pedangmu! Berperanglah!”

“Tidak! Aku tidak mau mati!”

Lihat selengkapnya