ADA

Rian Nugraha
Chapter #10

Darah Pendosa

Angin malam menerjang seperti cambuk. Dingin merayap di sela-sela baju zirah emas dan perak—menusuk hingga ke tulang. Tubuh menggigil. Setiap tarikan napas terasa seperti jarum yang menusuk hidungnya.

Di sepanjang barisan tenda, obor menyala redup, menebar bayangan yang bergetar. Ribuan pasukan beristirahat. Sebagian merayakan kemenangan, sebagian lagi berkumpul di sekitar api unggun, menahan dingin. Nyanyian prajurit mengisi udara malam.

Suara itu menyeruak ke dalam benak pemuda itu, membangunkannya dari kebingungan. Tubuhnya berat. Dia menahan diri dengan tangan kanan, memaksa diri bangkit. Ketika berdiri, logam zirahnya mengeluarkan decit halus. Langkahnya goyah. Baju zirah itu terasa asing di tubuhnya—berat dan tak seimbang.

“Di mana ini? Ini bukan ruang hampa,” gumamnya pelan, lalu berjalan menuju kerumunan yang masih bernyanyi.

Langkahnya tertahan ketika matanya bertemu dengan barisan prajurit. Mereka mengenakan zirah yang sama seperti yang pernah menuntaskan nyawanya dalam dua kehidupan sebelumnya.

“Mereka...” suaranya tercekat. Tubuhnya gemetar, takut mencekam.

Lagu-lagu berhenti. Para prajurit berdiri rapi, lalu memberi hormat padanya. Keheningan mendadak begitu tebal—hanya suara kain dan napas yang terdengar.

“Tuan. Apa perintah selanjutnya? Kita sudah menguasai tanah ini,” seorang prajurit melapor dengan sikap tegap.

“Kita? Apa maksudnya? Apa mungkin...” pikirnya, bingung.

Pemuda itu menatap mereka. Ada ketegangan di dadanya, lalu dia menyadari sesuatu. Syal para prajurit berwarna biru, sedangkan syal di lehernya merah. Perbedaan kecil itu menusuk, dia memilih untuk mendekat.

“Antarkan aku ke tenda. Aku ingin istirahat,” pinta pemuda itu, suaranya serak. Sejenak, sebuah lega tipis mengisi dadanya.

Mereka mengantarnya—bukan ke tenda sembarangan. Tenda itu adalah pusat, tempat para pemimpin mengumpulkan peta, lambang, dan strategi. Di sana lampu lebih terang, aroma minyak dan kertas memenuhi udara.

Dia melangkah pelan ke dalam, kaki hampir tak mampu menahan beban zirah. Napasnya berat. Kepalanya berputar karena rasa dingin dan kecemasan.

Di singgasana, seorang pria berjubah zirah menunggu. Syal merah, biru, dan emas tergantung di lehernya seperti tanda kebesaran. Pemuda itu membeku. Pria itu adalah sosok yang telah mengakhiri hidupnya dua kali—tanpa ampun, tanpa belas kasihan.

“Akhirnya kau datang, manusia. Mari kita sama-sama rebut tanah ini...” kata pria itu, senyum di bibirnya indah, terlihat mengerikan.

Pemuda itu mendekati meja besar yang dipenuhi peta dan simbol-simbol. Strategi tergambar jelas di atas gulungan-gulungan kertas.

“Malam ini, kita akan menyerang. Kita akan rebut tanah mereka bersama isinya...” suara pria itu menggema, menuntut ketaatan. Tak ada yang berani menentang.

“Bunuh semua yang melawan. Orang tua, wanita, bahkan anak-anak sekalipun. Jangan ada yang tersisa,” tegasnya lagi.

Lihat selengkapnya