ADA

Rian Nugraha
Chapter #11

Ambang Keabadian

Malam itu begitu mencekam. Jeritan, tangisan, dan ratapan manusia bersahut-sahutan, mengoyak keheningan. Kegelapan menelan segalanya—hanya diselingi oleh kobaran api yang menjilat langit, membakar rumah-rumah hingga tinggal arang.

Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Orang tua, wanita, anak-anak—semuanya mati mengenaskan di atas tanah yang kini memerah oleh darah.

Di tengah neraka dunia itu, pemuda itu terbangun. Kepalanya pening, tubuhnya lemas. Bau amis darah dan daging gosong membuatnya sadar sepenuhnya bahwa tempat ini bukan lagi dunia manusia.

“Bukan ruang hampa lagi... Ini neraka!!!”

Matanya terbelalak melihat pemandangan mengerikan. Prajurit-prajurit berzirah emas, wajah mereka tersembunyi di balik topeng logam berkilat, membantai siapa pun tanpa belas kasih.

Tiba-tiba, dari belakang, tangan kecil menarik bajunya. Suara anak kecil bergetar ketakutan.

“Ayah… ayah, selamatkan aku dari sini.”

Pemuda itu menoleh cepat. Seorang anak berdiri di belakangnya, tubuhnya berlumur debu dan darah.

“Siapa anak ini? Kenapa dia memanggilku ayah? Apa mungkin… di dunia ini aku punya anak?”

Pikirannya kacau. Tatapan anak itu menusuk hatinya. Ada sesuatu di mata anak itu—ketakutan yang terasa begitu nyata.

“Ayah... ayo kita pergi. Aku takut...”

Pemuda itu hanya diam sesaat. Hatinya berdebar kencang. Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak membiarkan anak itu sendirian. Entah kenapa, dia merasa terikat dengannya. Seperti darah yang memanggil darah.

Suara langkah berat terdengar mendekat.

Clang... clang... clang...

Denting logam beradu dengan tanah yang berlumur darah.

Tanpa pikir panjang, pemuda itu menggenggam tangan si anak, lalu berlari.

Sepanjang jalan, pemandangan neraka terus memburunya. Orang-orang diseret, dipenggal, dibakar hidup-hidup. Udara dipenuhi asap dan jeritan. Langit seakan runtuh.

Pemuda itu menggigit bibirnya, menahan rasa takut yang hampir melumpuhkan. Genggamannya pada tangan kecil itu tak pernah lepas.

“Tolong!!!”

Dia berteriak di tengah kegelapan. Yang menjawabnya hanyalah gema tangisan dan jerit kesakitan.

Dia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Di antara kobaran api, prajurit-prajurit berzirah emas menatapnya tajam. Mata mereka dingin seperti binatang buas yang lapar.

Lihat selengkapnya