ADA

Rian Nugraha
Chapter #12

BAB III: PENDOSA - Belenggu Cahaya

Titik-titik cahaya bermunculan satu per satu—semakin banyak, semakin rapat. Tak satu pun sanggup meneranginya.

Pemuda itu terdiam. Tak bergerak sedikit pun. Dalam kegelapan ruang hampa yang begitu pekat, hanya suara jantungnya yang berdetak keras, menggema seperti palu menghantam dinding sunyi. Napasnya tertahan, tersangkut di tenggorokan. Ada sesuatu yang menyesakkan—sesuatu yang bukan sekadar rasa sakit.

Matanya bersinar, cahaya itu kosong. Biru yang dingin, mengambang di antara gelap yang membelenggu. Pikirannya kacau, terombang-ambing oleh kenangan kehidupan yang baru saja ditinggalkannya. Kehidupan sebagai pendosa, pelaku, sekaligus korban dari kekejian manusia yang tamak atas nama kesucian.

Dia sudah tak sanggup menanggung kesakitan yang selalu datang bersama setiap kematian yang menjemputnya. Penyesalan, dosa, ketidakberdayaan—semuanya melebur jadi kehampaan.

Pemuda itu sadar, dirinya sedang dipermainkan oleh sesuatu. Entitas yang tak dikenalnya.

Dia menarik napas panjang. Menahannya. Berusaha menenangkan diri. Sia-sia. Keputusasaan itu selalu datang dan selalu menang. Hingga akhirnya, dia melawan.

“Aaaaaaaaahhh!” teriaknya sekuat tenaga, menggema menembus kegelapan.

“Kenapa kau menyiksaku seperti ini?! Jangan bangkitkan aku lagi! Sakit… sangat sakit! Bukan hanya tubuhku, pikiranku juga merasakannya!”

Dia menatap ke atas—ke arah titik-titik cahaya yang kini semakin terang. Kepalanya bergoyang pelan, menolak, menantang.

“Cahaya itu hanya belenggu… Aku sudah tak tahan lagi! Tunjukkan dirimu! Maka akan kuakui semuanya!”

Tiba-tiba...

Lihat selengkapnya