ADA

Rian Nugraha
Chapter #13

Cahaya Kota, Bayang Dosa

Di bawah langit yang berkilauan, sebuah kota metropolitan berdiri megah. Menara-menara kaca menjulang tinggi, memantulkan sinar matahari yang membakar awan. Jalanan lebarnya membelah kota, penuh deru mesin mobil sport dan gemerlap lampu neon yang tak pernah padam.

Ini adalah kota yang tak pernah tidur. Tempat di mana mimpi-mimpi besar lahir, dan kebebasan terasa seperti udara yang dihirup setiap hari.

Trotoar sibuk oleh langkah-langkah cepat. Eksekutif berjas mahal, seniman jalanan dengan cat semprot di tangan, anak muda dengan headphone besar menari mengikuti ritme hidup mereka sendiri. Dunia bergerak cepat, seakan tak memberi ruang untuk berpikir.

Di antara keramaian itu, pemuda itu berdiri terpaku. Wajahnya tampan, tubuhnya terbungkus stelan mahal. Di balik kemewahan itu, pikirannya tetap sama. Jiwanya masih seperti dulu—seperti sebelum semuanya berubah.

Dia menatap langit kota yang menyilaukan, berbisik pelan.

“Ini... dunia apalagi?” gumamnya.

Wajahnya menyimpan ketakutan yang sulit disembunyikan. Dia terus berjalan menyusuri jalanan tanpa arah, mencoba memahami tempat asing yang begitu megah ini. Perlahan, rasa takut itu terkikis oleh pesona kota—oleh cahaya, musik, dan tawa yang menelan segalanya.

Saat malam tiba, kota itu bertransformasi.

Gedung-gedung pencakar langit menyala seperti lukisan digital di langit hitam. Klub-klub malam berdentum, musiknya seperti denyut jantung yang tak pernah berhenti. Di rooftop bar, gelas-gelas koktail beradu, memantulkan cahaya lampu kota seperti bintang yang jatuh di tangan manusia.

Wanita-wanita cantik memenuhi ruangan. Molek, menggoda, menari dalam irama yang menghipnotis.

Pemuda itu larut. Dia menari, tertawa, mabuk dalam kenikmatan. Tangannya menyentuh lembut tubuh-tubuh indah, bibirnya bersentuhan, matanya buram oleh cahaya dan hasrat.

Malam itu, dia kehilangan kendali.

Dia membawa lima wanita dari bar ke apartemennya. Lima tubuh yang menemaninya dalam pesta dosa. Kamar itu dipenuhi suara—desahan, tawa, dan gemericik kenikmatan yang bertahan hingga fajar.

Ketika matahari terbit, pemuda itu terbangun sendirian. Tubuhnya telanjang di bawah selimut tebal. Kelima wanita telah pergi. Yang tersisa hanyalah bau keringat, alkohol, dan amis sisa kenikmatan semalam.

Dia duduk terpaku, menatap kosong ke depan. Sebuah kesadaran dingin menyusup dalam pikirannya.

Di kehidupan sebelumnya, dia mati dengan cara yang keji karena dosa-dosanya. Di sini, di dunia baru ini, dia takut mengulanginya lagi.

Dia menunggu. Lama. Seolah menanti hukuman turun dari langit. Hening. Tak ada yang datang. Tak ada neraka, tak ada petir.

Perlahan, dia menghela napas lega, mengira dirinya bebas. Dia bangkit, mandi, berpakaian rapi, bersiap untuk mencari kesenangan baru. Saat hendak pergi, bel apartemennya berbunyi.

Dia membuka pintu dan membeku. Di ambang pintu berdiri seorang pria berpakaian lusuh, membawa peralatan kebersihan. Wajahnya adalah wajahnya sendiri.

“Dia... adalah aku,” gumamnya lirih, matanya melebar.

Lihat selengkapnya