Hujan deras mengguyur Kota Metropolitan yang megah, menyapu jalan-jalan beton yang biasanya padat dengan langkah cepat para pejalan kaki.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh di bawah langit kelabu—siluetnya menjulang seperti raksasa bisu yang menantang petir. Cahaya neon dari papan reklame raksasa berkedip-kedip merah, biru, kuning, memantul di genangan air di trotoar, bergetar setiap kali kilat membelah langit.
Di bawah payung-payung yang basah kuyup, orang-orang bergegas seperti bayangan. Mantel mereka berkibar diterpa angin malam yang dingin. Suara klakson bersahutan, menyatu dengan gemuruh air hujan yang menelan suara dunia.
Di sudut jalan, sebuah kedai kopi kecil memancarkan cahaya hangat keemasan. Aroma kopi yang kaya sesekali menyelinap keluar setiap kali pintunya terbuka, menggoda siapa pun yang mencari perlindungan dari badai.
Di antara gemerlap dan hiruk-pikuk itu, di dalam gang sempit yang remang, pemuda itu berdiri diam. Mantel panjangnya basah kuyup, tertiup angin. Dari balik hujan, dia memandang kota seperti seseorang yang menatap masa lalu yang tak bisa dihapus. Lampu jalanan berpendar di matanya—seolah bintang-bintang telah jatuh ke bumi hanya untuk menertawakannya.
Petir menyambar lagi. Sekilas, cahaya itu menelanjangi wajahnya. Wajah yang dulu tampan kini berubah menjadi rupa yang nyaris tak bisa dikenali. Luka-luka bernanah, kulit membusuk, mata sayu. Dia tak menutupinya, tak berusaha lari. Seolah penderitaan itu adalah hukuman yang memang pantas dia nikmati.
Langkahnya terhuyung, kaki lemah menopang tubuh yang sudah hampir tak bisa disebut manusia. Bau amis darah dan nanah menembus udara, menusuk hidung siapa pun yang mendekat. Air hujan tak cukup kuat untuk menghapus bau busuk itu.
Setiap tetes hujan yang menyentuh kulitnya membuatnya meringis. Luka-lukanya seperti menjerit bersama tiap langkah.
Dia terus berjalan menuju satu tempat—klinik kecil di ujung kota. Harapan terakhirnya.
Dia ingin sembuh. Atau setidaknya ingin berhenti menderita.
Setelah perjalanan yang terasa abadi di tengah hujan, akhirnya dia tiba. Lampu klinik berpendar redup di balik tirai yang lembap. Saat dia masuk, percakapan dan suara batuk di ruang tunggu langsung terhenti.
Orang-orang menjauh. Beberapa menutup hidung. Yang lain meludah, seolah kehadirannya mencemari udara.
Dia duduk menunduk, membiarkan tatapan jijik menusuk tubuhnya yang sudah penuh luka. Untuk sesaat, dia merasa lebih hina dari apa pun yang hidup di dunia ini.
Ketika namanya dipanggil, dia bangkit perlahan, membuka pintu ruang periksa. Seorang dokter tua duduk di balik meja—berwajah keras, rambutnya putih, tatapan matanya tajam seperti pisau bedah.
Pemuda itu duduk dengan susah payah. Dokter itu menatapnya lama, lalu mengambil tiga lapis masker dan mengenakannya. Bau busuk di ruangan itu begitu menyengat hingga lampu di atas kepala terasa bergetar.