ADA

Rian Nugraha
Chapter #15

Penjara Jiwa Hina

Di balik tembok beton yang retak dan berlumut, penjara tua itu berdiri seperti makam yang masih bernapas. Udara di dalamnya berat—tebal oleh campuran bau keringat, urine, darah, dan keputusasaan. Semuanya menciptakan kabut tak kasat mata yang menyesakkan dada.

Cahaya matahari menembus celah-celah jendela kecil berjeruji karat, menyebar redup di lantai semen yang dingin dan kotor. Di sudut-sudut sel, suara tetesan air dari pipa bocor bergema monoton. Seolah waktu sendiri telah menyerah di tempat ini.

Dinding-dindingnya penuh coretan. Nama-nama, kutukan, doa-doa yang tak pernah sampai. Bayang-bayang para narapidana bergerak lamban, seperti hantu yang menunggu giliran untuk dilupakan.

Mereka duduk di atas dipan besi berkarat, kasur tipis bernoda gelap yang tak pernah benar-benar kering. Sorot mata mereka kosong. Sebagian menyimpan amarah, sebagian lain hanya pasrah. Jiwa mereka telah dikubur jauh sebelum tubuh mereka mati.

Di koridor sempit, suara rantai yang diseret menggores lantai—bunyi besi melawan batu. Setiap kali seorang tahanan baru dibawa masuk, suara itu menggetarkan dinding. Para penjaga, dengan seragam lusuh dan wajah sekusam jeruji, berjalan berat. Tongkat di tangan mereka siap menghukum bahkan tanpa alasan.

Pemuda itu meringkuk di sudut selnya, sendirian. Luka di tubuhnya membusuk. Darah dan nanah mengalir lambat, menghitam di lantai. Ketika suara denting logam memukul jeruji terdengar, tiga penjaga masuk dengan masker gas dan sarung tangan karet.

Beberapa detik kemudian, tubuhnya digusur seperti bangkai. Rantai di pergelangan tangannya ditarik kasar hingga dia tersungkur, diseret sepanjang koridor. Darahnya meninggalkan jejak basah di lantai. Tak ada teriakan. Hanya erangan kecil yang pecah setiap kali kulitnya bergesek dengan semen dingin.

Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan besi. Pintu berkarat itu berdecit panjang saat dibuka. Di dalamnya, berdiri seorang kepala penjaga—tinggi, besar, dengan masker gas yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya tajam, dingin, seperti binatang yang lapar.

Pemuda itu dipaksa berdiri, lalu berlutut. Kepala penjaga menatapnya, lalu mengangkat dagunya dengan ujung sepatu bot.

“Manusia busuk,” suaranya berat, serak, penuh jijik. “Masker gas ini saja tak mampu menahan bau bangkai dari tubuhmu.”

Pemuda itu menatap kosong, tanpa ekspresi.

“Tak ada satu pun yang mau sekamar denganmu. Seluruh blok bau karena kau.”

Pemuda itu mengerutkan dahinya, suaranya nyaris tak terdengar.

“Kenapa aku dibawa ke sini?”

Lihat selengkapnya